Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label ziarah buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ziarah buku. Tampilkan semua postingan

HMI dan Arsip-Arsip yang Terbengkalai

Senin, 18 Februari 2019


Beberapa hari ini, saya melakukan aktivitas yang tak biasa. Menekuni dan menelusuri arsip-arsip lawas. Terutama arsip tahun 1950-an hingga 1998. Minat untuk melacak arsip-arsip lawas ini dikarenakan informasi yang saya dapat saat melakukan pembacaan terhadap sepak terjang Partai Masyumi di saat Pemilu 1955. Saat membaca buku Remy Madinier, Partai Masjumi : Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral, saya menemukan beberapa literature yang dipakainya dalam menulis buku tersebut. Terutama literature yang bersumber dari koran dan majalah.

Dari sanalah saya kemudian melakukan pencarian terhadap koran dan majalah yang dijadikan referensi oleh peneliti Centre Nationale de Recherche Scientifique, Paris, Prancis itu. Penelusuran saya mulai dari harian milik Partai Masyumi yang sempat berjaya di tahun 1950-an, yakni Harian Abadi. Saat mencoba membaca koran Harian Abadi di Perpustakaan Nasional RI yang terletak di jalan Merdeka Selatan, minat untuk tenggelam dalam dunia arsip kemudian tumbuh. Hal ini dikarenakan informasi yang didapat dari menelusuri arsip-arsip lawas itu di luar pengetahuan yang saya dapat selama ini. Terutama pengetahuan soal organisasi di mana saya dulunya sempat berproses di dalamnya, HMI.

Di koran Harian Abadi, edisi 30 November 1958, pada rubrik ‘Kami Perkenalkan’, koran yang afiliasi politiknya ke Partai Masyumi itu mengangkat profil Ketua Departemen Keputrian PB HMI, Titie Raya. Libido saya bangkit seketika untuk membaca koran lawas yang sudah berbentuk microfilm itu. Meski rangkaian kalimat yang tertera pada koran lawas berbentuk microfilm itu sudah agak sulit untuk dibaca, saya memaksakan diri untuk membacanya hingga tuntas. Kacamata saya lepas. Agak sulit membaca koran yang sudah bulukan itu bila masih menggunakan kacamata. Begitu pikirku.

Dalam rubrik itu dikatakan, selain sebagai aktivis di HMI, Titie Raya juga memiliki minat dalam dunia pers. Terbukti ia menjabat sebagai Redaktur pada majalah ‘Wanita’ Jakarta. Tak hanya itu. Titie Raya juga memiliki keahlian dalam berdeklamasi. Pernah pada bulan Juli 1958, dilangsungkan Pekan Kesenian Mahasiswa se-Indonesia di Yogyakarta. Dan Titie Raya ikut sebagai salah satu pesertanya di sana. Kegemarannya dalam membaca puisi dan bakat seni yang ada dalam dirinya, posisi sebagai runner up  pun digondolnya.

Selain memiliki darah seni, Titie Raya juga menyimpan sikap kritis terhadap aktivitas perempuan yang ada saat itu. Terutama munculnya kontes-kontes kecantikan yang berupaya mencari dan menyaring perempuan potensial. Pagelaran itu dikritiknya habis-habisan. Ia tidak setuju terhadap adanya kontes-kontes kecantikan itu, yang menurutnya, para penonton tidaklah melihat pada pakaian yang dikenakan oleh perempuan yang sedang berjalan di atas catwalk itu. Melainkan melihat pada fisik perempuannya saja. Berbeda dengan kontes pakaian pelajar atau mahasiswa yang pernah digelar oleh HMI di Solo. Pada pagelaran kontes yang digelar HMI, aspek kesopanan, praktis, ekonomis, harmonis, dan tentunya memperhatikan norma-norma kesusilaan budaya ketimuran lebih ditekankan dibandingkan pada penonjolan fisik belaka.

Dalam koran Harian Abadi itu juga diterangkan Titie Raya gemar dalam dunia tulis menulis. Terutama dalam menulis cerita-cerita pendek atau cerpen. Kegemarannya itu, katanya, karena menulis bisa dilakukan tanpa meninggalkan aktivitas kuliahnya. Penting untuk diketahui, Titie Raya ini berasal dari Bojonegoro Jawa Timur. Ia menyelesaikan studi SMA-nya di kota Malang kemudian melanjutkan kuliahnya pada Jurusan Ilmu Purbakala, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Nama aslinya adalah Titie Said Sadikun. Ia lahir pada 11 Juli 1935.

Kembali pada penelusuran arsip-arsip lawas tadi. Setelah membaca profil Titie Raya itu, rasa penasaranku semakin tinggi. Segera saya melacak nama ini. Pada Mbah Google saya bertanya. Saya ketik namanya. Enter. Muncul data tentang sosok Titie Raya ini lengkap beserta karya-karya yang telah ditorehkannya serta aktivitas perjuangannya baik di ranah sastra dan dunia politik. Ternyata, Titie Raya pernah menjabat sebagai anggota DPRD Fraksi Golkar di DPRD Provinsi Bali, tanah kelahiranku.

Saya baca beberapa pendapat dari kalangan sastrawan dan budayawan tentang sosok satu ini. Misalnya dari Paus sastra Indonesia, HB.Jassin, yang mengatakan kalau Titie Raya ini memberikan kesan yang jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan pengarang wanita lainnya. Ajip Rosidi bahkan mengatakan bahwa Titie Raya adalah sosok cerpenis yang sangat terampil dan rajin melukis serta memotret panorama Indonesia lewat karya-karyanya. Pendapat dan pandangan dua sastrawan itu makin membuat rasa penasaranku semakin tinggi.

Segera saja saya menulis beberapa catatan media massa mana saja yang pernah menjadi tempat Titie Raya bekerja dan menuliskan pandangan-pandangannya, baik lewat tulisan berbentuk opini atau pun cerpen. Majalah mingguan Hidup, majalah Wanita, Majalah Brawijaya, Roman, Widjaja, Indonesia, Berita Minggu, Star Weekly,Varia, Sastra, Kartini, Putri Indonesia dan Ananda menjadi target pencarian selanjutnya. Pada buku tulis kecil yang selalu kubawa, tak lupa pula saya tuliskan judul-judul karya tulisnya. Saya ingin melacaknya. Saya ingin membaca karyanya. Mengetahui pandangannya yang disampaikan lewat tulisan-tulisannya itu.

Bermula dari Remy Madinier, saya dituntun ke Harian Abadi, kemudian diperkenalkan ke Yunda Titie Raya dan tenggelam masuk dalam majalah Hikmah yang dikeluarkan oleh pentolan-pentolan Masyumi. Lagi-lagi saya menemukan informasi dan data baru yang belum pernah diketahui sebelumnya saat berproses di HMI. Melalui tulisan Deliar Noer dalam majalah mingguan Hikmah 4 Juni 1955 yang berjudul Sedikit Tentang HMI : Konferensi Akbar di Kaliurang, yang mengatakan bahwa PB HMI pada tahun 1954 pernah menerbitkan majalah dengan nama ‘Media’ yang telah terbit sebanyak 12 edisi. Membaca data itu, semangat investigasiku makin berlipat-lipat.

Saya telusuri lagi nama majalah itu di Perpusnas. Dibantu Akril (HMI Cabang Kendari), saya mengetik nama majalah itu pada komputer yang siap sedia melayani pembaca untuk mencari referensi bacaan yang diperlukan. Alhamdulillah ketemu. Namun hanya ada tiga edisi saja. Itu pun tahun terbitnya bukan tahun 1954, melainkan tahun 1959. Semangat sudah mulai menurun karena tak sesuai ekspektasi. Di sisi lain, pikiranku sudah mulai meraba-raba dan menganalisa tiga edisi majalah Media yang ada di hadapanku. Saya mulai membuka lembar demi lembar majalah Media itu. Membacanya sekilas sambil membayangkan para pendahulu yang bersusah payah menuliskan perjuangan HMI waktu itu.

Saya berpikiran, andai saja para pendahulu itu tak menuliskan aktivitas HMI di masa mereka, maka, saya yakin generasi selanjutnya tak akan pernah mengetahui sepak terjang dan perjuangan HMI di masa lalu. Dengan ditulis, ia abadi. Ia menjadi penjaga ingatan. Menjadi tapak kaki yang perlu untuk ditelusuri jejak-jejaknya. Semakin menelusuri, semakin masuk dalam samudera ilmu pengetahuan tak bertepi, dan semakin tak ingin kembali. Selalu ingin berduaan bersama arsip-arsip lawas itu.

Saya sangat menyayangkan minimnya minat para kader HMI dalam mencari, menjaga dan merawat ‘penyimpan ingatan’ itu. Entah apakah ini dikarenakan kerja-kerja mencari ‘penyimpan ingatan’ itu sepi dari riuh tepuk tangan, puja-puji dan minim materi. Ataukah ini dikarenakan telah menipisnya hasrat kader HMI dalam menekuni dunia pengetahuan dan keintelektualan yang tersimpan dalam buku-buku, arsip, koran dan majalah? Wallahu A’lam. Saya tak tahu. Yang kutahu, kutemukan kenikmatan di sana saat mencari ‘penyimpan ingatan’ itu yang masih berserakan. Dan saat menemukannya, lalu digandakan untuk arsip perpustakaan pribadiku. Menjaganya kemudian melestarikannya sebagai bahan untuk tulisan-tulisanku nantinya.

Jakarta, 19 Februari 2019

TAK LULUS SMA, BISA JADI DOKTOR

Minggu, 06 April 2014

Setelah kemarin aku mengajak kalian menyaksikan bagaimana sejarah perpustakaan dalam dunia Islam serta etika peminjaman buku pada masa itu, maka kini aku mencoba untuk menuntun tangan kalian menyaksikan kisah hidup salah seorang aktor sekaligus penulis kelahiran Kanada, Michael J. Fox. Melalui sebuah buku berjudul “Hidup itu Lucu”, aku akan mengajak anda semua untuk menyaksikan kisah hidup sosok satu ini.

Michael lahir di Kanada pada tahun 1961. Masa kanak-kanak dihabiskannya di Kanada, lalu saat berumur 15 tahun ia mencoba peruntungan nasibnya untuk menjadi aktor profesional sebagai pemeran utama dalam film Leo and Me. Umur 18 tahun Michael mencoba memberanikan diri untuk mengadu nasib di Amerika. Lama di Los Angeles dan selalu mendapat peran kecil, pada akhirnya nasib baik mengantarkannya menjadi pemeran utama dalam film yang sangat legendaris, Family Ties.

Dari film itulah Michael kemudian mulai berkenalan dengan Steven Spielberg, seorang sutradara ternama di masa itu, untuk kemudian mengajaknya bermain dalam film Back to The Future. Lewat film inilah kemudian Michael menjadi bintang dan aktor International yang melambungkan namanya. Kesibukan mulai mengisi hari-harinya hingga akhirnya ia mengidap penyakit parkinson, penyakit yang juga diderita oleh petinju legendaris, Muhammad Ali.

Penyakit ini dideritanya karena kesibukan Michael diluar batas kewajaran. Bagaimana tidak, setiap harinya ia harus bekerja sebanyak 18 jam untuk mengejar beberapa kontrak film yang telah ditandatanganinya hingga membuatnya kurang tidur. Bahkan tak jarang ia lupa dengan dirinya sendiri saking capeknya. Lihatlah pengakuannya dalam buku yang ditulisnya berjudul A Funny Thing Happened on the Way to the Future ; Twists and Turns and Lessons Learned. 
 
Ia menuturkan “berbagai kajian telah membuktikan bahwa kehilangan waktu tidur yang berkepanjangan akan memberikan dampak yang merusak tubuh, memicu halusinasi dan dalam kasus-kasus yang ekstrem menyebabkan kegilaan sementara. Aku mengalami kebingungan sehingga tidak sadar aku berada di lokasi mana pada suatu waktu, tokoh mana yang aku perankan, pakaian apa yang aku kenakan dan bahkan aku tidak tahu siapa diriku”.
Dus, itulah jalan hidup Michael J. Fox yang kini menghabiskan sisa hidupnya dengan penyakit parkinson dalam tubuhnya. Namun tahukah anda, bahwa ternyata kisah hidupnya, terutama pendidikannya, tidaklah seperti kebanyakan manusia-manusia tenar lainnya. Michael tak lulus SMA! Bahkan nilai raportnya pun selama sekolah banyak dipenuhi dengan warna merah. Meski tak lulus SMA, keingintahuannya yang begitu besar akan setiap hal, membuatnya belajar pada kehidupan.

Usia 32 tahun ia mulai belajar hal-hal penting dari teori Phytagoras untuk kemudian mengikuti ujian General Equivalency Degree. Jika di Indonesia, GED ini mirip dan hampir sama dengan ujian paket C. Kegilaannya pada buku-buku pada akhirnya menghantarkannya menjadi salah seorang penulis, aktor, produser film dan komedian sukses dalam sejarah hidupnya. Lihatlah apa yang dikatakannya soal minat bacanya yang begitu tinggi. “Aku tak bisa membeli buku, dan lebih tidak bisa lagi bila aku tak membaca buku”.

Meski penyakit parkinson mulai menyerangnya, Michael bisa bangkit dari trauma yang menyelimutinya. Ia mulai membuka diri. Belajar lagi pada kehidupan. Belajar lagi pada penyakit yang dideritanya itu. Seribu pertanyaan ia ajukan pada dirinya sendiri prihal penyakit yang dideritanya hingga akhirnya ia mendirikan The Michael J. Fox Foundation for Parkinson Research pada tahun tahun 2000.

Lembaga tersebut adalah wadah bagi para penderita parkinson untuk berbagi cerita dan pengalaman soal penyakit yang dideritanya. Lembaga ini juga bertugas untuk melakukan riset serta penelitian penyakit parkinson. Aktivitas Michael tetap padat, meski Parkinson menyerangnya. Hal inilah yang membuatnya menggondol beberapa penghargaan dan gelar Doktor dari beberapa universitas ternama dunia. The Karolinska Institute di Swedia dan New York University mengganjarnya dengan titel Doktor Bidang Seni Rupa, Mount Sinai School of Medicine memberinya titel Doktor Humaniora dan University of British Columbia memberinya titel Doktor di bidang Hukum. Itulah sederet nama lembaga pendidikan international yang memberikan penghargaan padanya.

Kerap saat menyampaikan pidato sambutannya kala Michael menerima sebuah penghargaan, ia selalu berkata dengan lantang dan berapi-api. “ Apa sih yang kalian pikirkan? Kalian semua tahu, aku hanya drop out SMA?”.

Ada satu pelajaran hidup yang bisa dipetik darinya. Semangatnya yang begitu tinggi dalam belajar, optimisme, serta penuh humor adalah beberapa dari kiat hidup yang dijalaninya. Satu yang menjadi titik tekannya dalam hidup ini yaitu : HIDUP UNTUK BELAJAR!

Pernyataan tersebut di atas mengingatkanku akan tuturan Sutan Takdir Alisjahbana yang menyatakan bahwa universitas sejati itu ada pada buku-buku dan alam semesta. Bila sudah tahu demikian adanya, masih tak maukah anda untuk selalu belajar? Baik pada buku-buku ataupun pada jagad raya? Bila masih tak mau, maka anda sungguh TERLALU!!!

Surabaya, 06 April 2014.

SEJARAH PERPUSTAKAAN DALAM ISLAM DAN ETIKA PEMINJAMAN BUKU

Jumat, 04 April 2014

Hari ini, tumpas sudah aku menyigi dan menguliti buku karya Agus Rifa’i yang berjudul “Perpustakaan Islam ; Konsep, Sejarah dan Konstribusinya Dalam Membangun Peradaban Islam Klasik”. Butuh waktu tiga hari untuk menghabisi buku ini. Dengan penggunaan bahasa yang renyah dan referensi yang berbobot, buku ini membuatku semakin menyadari besarnya peran Islam dalam membangun peradaban manusia.

Transformasi ilmu pengetahuan Yunani melalui penerjemahan karya-karya klasik Yunani ke dalam Bahasa Arab memberi andil besar dalam perkembangan Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Penerjemahan, penyalinan, serta diskusi dan riset dilakukan di segenap perpustakaan di dunia Islam. Kala itu gairah umat Islam dalam mencari pengetahuan sangatlah besar. Itu didukung pula oleh sikap Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun yang sangat gandrung dan cinta ilmu pengetahuan. Hingga alokasi anggaran dana pun disokong oleh pemerintahan kala itu.

Pembangunan dan pendirian perpustakaan bertebaran di mana-mana. A. Shalaby sebagaimana yang dikutip oleh buku ini menandaskan ada sekitar tiga puluh enam perpustakaan dan seratus toko buku ada di Baghdad sebelum kota ini hancur leburkan oleh Jenghis Khan dari bangsa Mongol. Perpustakan-perpustakaan tak hanya menyediakan beberapa buku untuk dipinjam dan dibaca ditempat, tapi juga memiliki sejumlah penerjemahan dan melakukan riset yang dilakukan oleh orang-orang yang dibayar untuk itu.
Buku ini mendedahkan pula bagaimana deskripsi perpustakaan dan sistem kerjanya di masa itu selain juga beberapa upaya penghancuran terhadapnya. Upaya pengkatalogan sudah dilakukan untuk mempermudah pencarian buku-buku yang hendak dibaca. Untuk tempat teratas dari rak buku ditempati oleh Al-Qur’an dan tafsir, lalu hadits dan syarahnya kemudian baru ilmu-ilmu lainnya.

Yang mengherankan dari pengelolaan perpustakaan di masa itu adalah disediakannya alat-alat tulis, kertas dan tinta bagi para pengunjung yang hendak mengambil data yang ada dalam buku di perpustakaan. Sebuah pelayan yang begitu memanjakan para pengunjung perpustakaan di masa itu.

Buku ini juga memberitakan pada pembaca sejarah awal mula berdirinya perpustakaan di dunia Islam. Mengutip Azami, perpustakaan dalam dunia Islam berdiri dekade keenam abad pertama hijriah. Tokoh yang pertama kali mendirikan perpustakaan di masa itu adalah Abd. Hakam bin Amir bin Abdullah bin Sufwan Al-Jumahi. Perpustakaan yang didirikannya itu diperuntukkan bagi masyarakat umum serta dilengkapi dengan ruang bermain. Jadi, bisa dibilang perpustakaan dalam dunia Islam telah berdiri pada sekitar tahun 50-60 Hijriah pada masa Bani Umayyah , tepatnya pada masa Khalifah Muawiyyah bin Abi Sufyan. Namun sejatinya perpustakaan di masa itu bukanlah perpustakaan umum, tapi perpustakaan milik perseorangan yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Berbeda dengan penuturan Azami, Mackensen menuturkan bahwa perpustakaan dalam dunia Islam telah berdiri sejak masa dinasti Bani Umayyah diakibatkan tradisi penulisan ilmu pengetahuan di kala itu. Dan pemilik perpustakaan pertama kali saat itu adalah Abu Bakr Muhammad bin Muslim bin Abdullah ibn Syihab Al-Zuhri. Dialah orang yang pertama kali menulis beberapa hadits atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yaitu pada akhir abad pertama Hijriyah. 
 
Soal sosok Al-Zuhri ini, Ibn Khalikan dalam kitab Wafiyat Al-A’yan menjelaskan bahwa Al-Zuhri adalah salah seorang ahli fiqih dan hadits terkemuka. Dalam kesehariannya hidupnya selalu dikelilingi oleh tumpukan buku-buku. Kapanpun dan di manapun ia berada, buku selalu ada di tangannya. Saking cintanya pada buku, tak heran istrinya sering cemburu karena Al-Zuhri sering menghabiskan waktu dengan buku-bukunya dibanding dengan dirinya. Pernah dalam suatu waktu sang Istri berujar “andai saja kamu punya istri tiga, buku-bukumu inilah yang paling membuat aku cemburu”. Sebuah kecintaan yang begitu gila diambang batas kewajaran pada sebuah mahluk yang bernama buku.

Dua pendapat di atas tentang awal mula berdirinya perpustakaan dalam dunia Islam tidaklah menjadi rujukan dalam buku-buku sejarah Islam. Pendapat yang paling masyhur prihal awal mula sejarah perpustakaan dalam Dunia Islam adalah pendapat yang menyatakan bahwa Khalid Ibn Yazid-lah sosok pertama yang mendirikan perpustakaan. Pendirian perpustakaan dilakukannya karena kekecewaannya karena tidak mendapatkan kursi kekhalifahan. Maka untuk menghibur dirinya, ia mendirikan perpustakaan yang memiliki koleksi lengkap, besar dan teratur. Khalid Ibn Yazid inilah yang mendapat julukan Wise Man of the Family Marwan, lelaki yang bijaksana dari keluarga Marwan.

Pernah diceritakan dalam suatu kisah, ia pernah mengumpulkan para ahli filsafat Yunani yang kebanyakan di antara mereka bertempat tinggal di Mesir. Diundangnya mereka untuk datang menjumpainya. Kemudian Khalid bin Yazid meminta mereka untuk menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Inilah awal mula kegiatan penerjemahan dalam dunia Islam.

Nah selanjutnya, pada kesempatan kali ini saya ingin juga membagi hasil bacaan saya terhadap buku ini prihal etika dalam peminjaman buku. Franz Rosenthal telah mengutip pendapat dan tuturan Ibn Jama’ah dan Al-Almawi prihal etika peminjaman buku. Dalam kitab yang ditulis oleh dua orang itu, di antaranya dalam kitab Tadzkirat al-Sami’ Wa al-Mutakallim fi Adab al-Ilmi Walmutakallim dan dalam kitab Mu’id fi Adab al-Mufid wa al-Mustafid, dijelaskan berkenaan etika peminjaman buku.

Ada lima hal yang disebutkan dalam kitab tersebut prihal etika peminjaman buku. Pertama, Pengguna atau peminjam buku hendaknya tidak berlambat-lambat mengembalikan buku tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, dan peminjam harus berterima kasih pada orang yang meminjamkan. APABILA PEMILIK BUKU MEMINTA UNTUK MENGEMBALIKANNYA, MAKA PEMINJAM DILARANG MENAHANNYA. Kedua, Buku pinjaman tidak boleh dipinjamkan pada tangan ketiga (orang lain). Ketiga, tidak memboleh mencoret-coret atau membuat catatan pada buku pinjaman tersebut kecuali yang meminjamkan memberi halaman kosong pada buku tersebut. Keempat, buku pinjaman tidak boleh disalin, baik sebagian atau keseluruhan bila tiada izin. Kelima, saat mengembalikan buku tersebut, buku itu harus diperiksa untuk menemukan catatan-catatan atau benda-benda berharga yang ada di dalamnya.

Saat menemukan beberapa poin etika peminjaman buku tersebut, saya jadi teringat pada puluhan buku saya yang masih ada di tangan orang dan hingga kini belum pulang. Meski berkali-kali kutagih, peminjam masih saja cuek berlalu menganggap permintaan saya itu angin lalu belaka. Hadeeeeeeeh........

Surabaya, 04 April 2014.

ZIARAH BUKU

Jumat, 14 Juni 2013

Vitamin T? Buku tentang apa ini?. Tentang kesehatankah? Demikian tanya saya dalam hati saat berada di antara tumpukan buku dalam agenda cuci gudang Penerbit Mizan di Surabaya. Sebelumnya saya tidak begitu memperhatikan buku dengan judul aneh tersebut. Mencuekkannya. Pikiran yang menyembul dalam benakku, buku ini mungkin buku kesehatan. Habis judulnya begitu. Namun setelah saya membayar sekitar delapan buku yang saya letakkan di kasir, mendadak saya sekilas membaca nama penulis buku Vitamin T tersebut. Hernowo.

Ini Hernowo yang mana ya? Penuliskah? Atau seorang Dokterkah? Seketika saya mengambil kembali buku itu dan membolak-balikkannya. Oh ternyata Hernowo penulis tho. Batinku. Tapi kenapa dia menulis soal Vitamin ya? Vitamin T pula. Vitamin apaan ini? Pertanyaan kembali menggelayut dalam benakku. Dan mungkin sebagaimana keraguan yang dituturkannya dalam buku ini, mungkinkah namanya bisa menjadi garansi bagi pembaca untuk membelinya?

Saya termasuk penyuka tulisan-tulisan beliau yang ada di jejaring sosial facebook. Sering saya membacanya dan setelah membacanya saya jadi termotivasi untuk membaca dan menulis. Seketika itu juga saya, berkeyakinan bahwa buku ini bagus. Jangan dilewatkan begitu saja. Kuambillah buku ini dan kukumpulkan bersama buku-buku yang sudah masuk dalam hitungan kasir.

Alhamdulillah. Ternyata dugaanku benar. Namanya menjadi garansi. Buku ini membangkitkan kembali minat membaca dan menulisku yang sudah sebulan lebih ini mengalami kevakuman. Diantara Sembilan buku yang kubeli, buku inilah yang pertama kali kubaca. Subhanallah.

Saya tertegun. Tak jarang bulu kuduk merinding setiap kali Pak Hernowo mengutip beberapa pendapat para tokoh-tokoh besar yang menjelaskan tentang kekuatan yang tersimpan dan akan meledak tiap kali proses membaca dan menulis dilakukan. Buku ini benar-benar menyadarkan akan kelalaianku sebulan terakhir ini. Saya suka pola penyampaian gagasan pak Hernowo yang begitu mudah dipahami, tak berbelit-belit. Prak prak prak. Langsung mengena ke sasaran.

Saya suka membaca namun untuk menulis terkadang kemalasan sering menyerang hingga membuatku terbelenggu oleh waktu yang kejam. Tulisanku memang sering dimuat di media. Dan itu kebanyakan resensi. Opini dan esai hanya beberapa saja. Kesukaan menulis resensi dilakukan karena memang itulah cara yang paling mudah untuk memulai proses menulis selain menulis diary.

Selain itu, saya selalu teringat dengan perkataan Muhidin M.Dahlan saat pelatihan menulis di Bibliopolis awal tahun 2011 kemarin. Dia menuturkan bahwa seorang penulis professional pada mulanya ia adalah seorang resensor buku. Seorang peresensi buku!!. Hernowo bilang “Mengikat Makna adalah Meresensi Buku”

Dan saya baru menyadarinya setelah sekian lama bergelut dengan buku. Ada banyak hal yang saya dapatkan setelah menelusuri dunia teks ini. Saya dibawanya hanyut entah kemana. Saya diajaknya untuk melakukan dialog imajiner dengan beberapa tokoh besar yang karyanya saya baca kemudian saya resensi. Sayapun jadi tahu pengalaman seseorang yang dituangkannya dalam bentuk kata.

Saya sangat berterima kasih sekali pada mentor-mentor menulis saya. Mbak Sasa, Gus Muh, Pak Suparto Brata. Merekalah yang menanamkan benih menulis dalam diri saya. Pak Hernowo, Sinta Yudisia, Rizal Mumazziq Zionis, serta beberapa penulis lain yang memberikan provokasi pada saya untuk segera meledakkan diri dengan potensi yang saya miliki.

Buat pak Hernowo, terima kasih pak atas ilmunya dalam buku Vitamin T ini. Terutama dalam bab berjudul “Meresensi Buku Dalam Setting Mengikat Makna”. Maklum pak. Khan sebagaimana saya katakan di depan saya suka menulis resensi. Menulis opini ataupun esay jarang saya lakukan. Bukannya tidak bisa. Tapi saya ingin agar saat menulis esay ataupun opini, tulisan saya itu sarat dan kaya akan gagasan. Dan itu tak mungkin saya capai tanpa membaca buku lalu meresensinya.

Tekhnik meresensi buku yang bapak terangkan sungguh makin mempermudah saya untuk menulis resensi. Saya ingin ada di tahap yang ketiga. Tahap Comparing.Tahap yang membandingkan satu buku dengan buku yang lain dalam tema yang sama. Inilah tahap mengkritisi sebuah buku. Inilah sebenarnya yang diajarkan oleh Gus Muh dulu, agar saya menggunakan mata seorang penyidik.

Terakhir, sebagai upaya dalam mengedit ego, saya benar-benar dilambungkan oleh kata-kata bijak Ursula K. Le Guin dalam Buku Vitamin T ini. Dia berkata “Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain, entah itu nyata atau imajiner. Itu adalah petunjuk buat kita untuk menyadari siapa kita dan akan menjadi seperti apakah diri kita ini”

Salam ta’dzim buat mentor-mentor saya. Mbak Sasa, Gus Muh, Pak Suparto Brata, Pak Hernowo dan yang lainnya. Semoga kita semua bisa mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali membangun peradaban tinggi melalui proses membaca dan menulis. Salam.

ISLAM DALAM PANDANGAN MBAH KUMIS

Minggu, 10 Juli 2011


Di muat di Koran Karian Radar Surabaya, Minggu 10 Juli 2011

Judul Buku : Nietzsche Berdamai Dengan Islam
Penulis : Ian Almond
Penerbit : Penerbit Kepik Ungu
Cetakan : I, April 2011
Tebal : xxxiv+ 106 Hal
ISBN : 978-602-98350-3-8

Pasca serangan 11 September oleh teroris yang memakai jubah Islam dalam gerakannya, Islam menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati, dicermati dan dikaji oleh para ilmuwan Barat. Islam dan Barat selalu saja dipertentangkan, di-oposisi binerkan. Hingga tak jarang sering terjadi konflik laten diantara keduanya. Tesis Samuel Huntington dalam sebuah karyanya Clash of Civilization tentang benturan dua peradaban besar, Islam dan Barat, menjadikan Islam semakin tersudut saat terjadi gerakan dan aksi teror.

Tewasnya gembong teroris Osama Bin Laden tentunya akan memantik kembali benih-benih kebencian kaum radikal fundamentalis dalam Islam. Wajah Islam yang ditunjukkan kalangan ini memang terkesan angker, sangar. Wajah demikianlah yang membuat Edward Said menuduh Islam sebagai agama kaum primitif, kolot, tidak demokratis.

Melihat hal itu, mungkinkah Islam bisa bersanding mesra dalam horison pemikiran para tokoh filosof Barat yang berada pada bangku terdepan postmodern? Inilah pertanyaan yang coba untuk di jawab oleh lulusan Universitas Edinburgh, Ian Almond, dalam buku ini.

Buku berjudul asli The New Orientalist : Postmodern Representations of Islam From Foucault to Baudrillard ini, mencoba mengaitkan Islam dengan beberapa filosof Barat yang terkenal sebagai gembongnya pemikir Barat. Ada enam tokoh filosof dan tiga satrawan yang coba untuk di ulas pemikirannya tentang Islam dalam buku ini. Enam filosof itu diantaranya Nietzsche, Foucault, Derrida, Julia Kristeva, Baudrillard serta filosof eksentrik yang lagi ngetrend saat ini, Slavoj Zizek.

Sedangkan tiga satrawan lainya yang coba di bahas pemikirannya oleh Almond adalah Orhan Pamuk (Penulis Turki), Jorge Luis Borges (Penulis Agentina) dan penulis buku The Satanic Verses, Salman Rushdie.

Salah satu hal menarik yang terdapat dalam buku ini adalah sayatan-sayatan Almond dalam upaya mengupas pemikiran tokoh dengan sabda The God Is Dead-nya yang menggemparkan dunia pemikiran. Tokoh tersebut adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche.

Nietzsche dilahirkan di sebuah kota kecil Jerman, Rocken bei Lutzen, Leipzig pada tanggal 15 oktober 1844. Ia merupakan filsuf legendaris Jerman paling provokatif yang identik dengan atheisme dan gerakan anti agama. Filsuf berkumis tebal ini juga menjadi sosok avant garde aliran filsafat eksistensialis. Tak heran jika ia mendapat julukan biang atheis, ‘mbah’-nya skeptis nihilis serta sang penjagal Tuhan.

Meskipun Nietzsche seorang anti agama, namun anehnya saat diajukan pilihan antara dua agama, Islam dan Kristen, Yahudi dan Arab, Nietzsche lebih cenderung memilih Islam dan Arab. Karena bagi Nietzsche, Islam adalah agama maskulin, agama dari produk kelas yang berkuasa. Dalam artian Islam tidak malu untuk mengakui naluri kelelakian semisal untuk berperang, hasrat untuk berkuasa serta meletakkan perempuan pada posisinya.

Rasa simpatik Nietzsche terhadap Islam, menurut Almond, disebabkan karena dua hal. Pertama, untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik. Sebagai seorang eksistensialis, ia beranggapan Islam adalah suatu hal baru yang harus dipelajari. Meskipun Islam bisa di sebut sebagai “tema pinggiran” dalam semesta pemikirannya, akan tetapi memahami Islam, menurut Nietzsche, bisa membuat pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.

Kemudian alasan kedua yang menjadi faktor ketertarikan Nietzsche terhadap Islam, disebabkan ketidaknyamanannya terhadap kebudayaan Jerman. Sejarah mencatat bahwa tidak hanya Nietzsche saja yang merasa fobia dengan kebudayaannya sendiri. Salah seorang penyair Jerman, Heine, pun demikian halnya. Bedanya, kalau Heine mengutuk orang Jerman sebagai manusia Bar-bar dan orang Persia sebagai kalangan beradab.

Dalam buku setebal 106 halaman ini, Almond juga menyuguhkan kepada pembaca perbedaan Nietzsche dengan para Orientalis lain yang mengkaji Islam. Perbedaan itu terletak pada penggunaan citra-citra gelap olehnya. Citra gelap yang melekat pada Islam diantaranya kurang modern, hierarkis, kurang demokratis, serta bersifat militeristik. Citra gelap itulah yang digunakan oleh para pengkaji Islam di Barat untuk menyudutkan Islam.

Bedanya, citra gelap Islam itu oleh Nietzsche malah dijadikan senjata untuk mendobrak klaim-klaim universal kekristenan dan modernitas Eropa. Maka tak heran dalam sebuah karyanya The Antichrist, Nietzsche dengan lantang bersuara “ Perang hingga titik darah penghabisan dengan Roma. Damai dan persahabatan dengan Islam”.

Membaca pemikiran Nietzsche, ibarat berjalan menyusuri tebing nan curam. Penuh tanjakan dan duri-duri jebakan. Adakalanya pemikiran yang dilontarkannya berwajah ganda, bias serta penuh kritikan pedas terhadap agama. Namun bila ditelisik lebih jauh lagi karya-karyanya, Nietzsche, sebagaimana yang dikatakan oleh Tyler T. Robert, berada di posisi tengah-tengah antara pemikir agama dan anti agama.

Meskipun buku ini oleh Zacky Khairul Umam dalam tulisan esai pembukanya hanya di anggap semacam kegenitan intelektual Almond saja, disebabkan karena kapasitas tiga tokoh filosof yang di bahas didalamnya tidak memahami bahasa dan sastra di Timur Tengah. Baik bahasa Arab, Persia, Turki serta Ibrani. Namun hal itu tidak mengurangi nilai buku ini untuk di baca oleh para penggelut dunia pemikiran.

Setidaknya para pembaca akan memperoleh satu pengetahuan bahwa Islam tetaplah tema seksi yang akan selalu diperbicangkan oleh kalangan filosof Barat. Demikianlah kewarna-warnian Islam dalam horison pemikiran para filosof Barat.

*Peresensi Mahasiswa Theologi & Filsafat IAIN Sunan Ampel, Bergiat Di Bengkel Menulis Bibliopolis Surabaya.


TURKISTAN, RIWAYATMU KINI

Minggu, 10 April 2011


Judul Buku : Para Mujahid Cinta (Layaali Turkistan)
Penerbit : Ihwah Publishing House
Penulis : Najieb Kailani
Penerjemah : Socheh Muhammad
Cetakan : I, 2011
Tebal : xiii + 219 Halaman
Peresensi : Muhammad Shofa

“Jika orang melupakan kita, itu artinya permasalahan besar yang kita perjuangkan telah mati”. Itulah kalimat yang keluar dari mulut suci Mansur Darga, salah satu Mujahid Cinta yang tewas di berondong peluru kaum imperialis saat menjejakkan kakinya di negeri Turkistan.

Mungkin saat ini banyak pembaca yang tak mengetahui bahwa dulu sempat ada sebuah negeri dengan nama Turkistan. Sebuah negeri tempat lahirnya para ilmuwan Islam yang telah memberikan sumbangsih begitu besar bagi perkembangan peradaban manusia. Di tanah Turkistan itulah lahir ulama’-ulama’ dan filosof Islam seperti Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Farabi dan Al-Bukhori.

Namun sayangnya, tanah harapan itu kini telah hilang ibarat di telan bumi. Peta duniapun sepertinya tak mau lagi menerima nama Turkistan seperti nama negeri-negeri lain yang pernah ada. Serangan bangsa China dan Rusia terhadap Turkistan menjadikannya hanya ada dalam sebuah dongeng-dongeng yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Berangkat dari hal itulah, seorang sastrawan kesohor kelahiran Mesir mencoba menguak sejarah tenggelamnya negeri Turkistan itu melalui sebuah karya berjudul ‘Para Mujahid Cinta’. Buku berjudul asli Layaali Turkistan ini memaparkan dengan detail detik-detik hilangnya ‘Andalusia Kedua’ dalam dunia Islam itu dalam bentuk novel.

Ekspansi teritorial yang dilakukan dua negara komunis, China dan Uni Sovyet (Rusia sekarang), menjadikan wilayah Turkistan Barat dan Timur menjadi Negara pecahan kecil-kecil. Turkistan barat yang dijajah oleh Uni Sovyet kini berubah menjadi Republik Sovyet Uzbekistan, Republik Sovyet Turkmenistan, Republik Sovyet Kirghistan dan Republik Sovyet Tadzhikistan. Meskipun pada akhirnya Uni Sovyet runtuh pasca gerakan parestoika yang digawangi oleh Michael Ghorbachev, Turkistan tetap hilang dengan alasan politik yang di buat-buat. Sedangkan Turkistan Timur yang dijajah oleh Chinapun, kini menjadi Propinsi Sinkiang.

Buku setebal 129 halaman ini diawali dengan kisah pendudukan pasukan China yang mencengkeram Propinsi Kumul pada tahun 1930. Disebabkan karena merasa sudah menguasai daerah jajahannya, maka komandan China membuat peraturan yang sesuka hatinya. Tak perduli apakah peraturan itu bertentangan dengan keyakinan penduduk yang dijajahnya. Peraturan itu adalah keharusan bagi semua orang Turkistan untuk menikahkan anak perempuannya kepada pasukan China, meskipun berbeda keyakinan.

Berawal dari sanalah, pemberontakan rakyat Turkistan melawan China mulai bergelora di bawah pimpinan pemikir, negarawan serta ulama’ kharismatik Khaja Niyaz Haji. Padanya terdapat sikap keberanian dan kearifan serta sang motivator para mujahid muslim Turkistan. Dialah pada akhirnya menjadi Presiden pertama negeri Turkistan menggantikan raja Kumul yang tewas.

Melihat peperangan antara Turkistan dan China, Uni Sovyet mencoba untuk ikut bermain dalam konflik kedua Negara tersebut dengan topeng “membantu”. Pemimpin Uni Sovyet saat itu, Stalin, mencoba mengutus perwakilan ke Turkistan di bawah pimpinan Zajam Sin Dargam untuk bertemu muka dengan Khaja Niyaz Haji. Tentunya dengan kompensasi yang mempertaruhkan harkat dan martabat negeri Turkistan.Penolakan halus dilakukan Khaja Niyaz Haji atas bantuan yang ditawarkan utusan Rusia itu. Mendapat penolakan itu, pihak Sovyet pada akhirnya merapat kepada Pasukan China dengan alasan yang sama. Membantu!. Hingga akhirnya dua kekuatan komunis membabat habis wilayah-wilayah negeri Turkistan.

Buku yang diterjemahkan oleh Socheh Muhammad ini, selain mengisahkan tentang jiwa patriotisme, juga mengisahkan tentang jalinan cinta tokoh utama yang bernama Mustafa Murad Hadrat dengan Najmat Lail. Keduanya adalah pelayan istana Raja Kumul. Peperangan membuat cinta mereka terpisahkan untuk sementara waktu. Demi menyelamatkan keluarga kerajaan, Najmat Lail rela menikah dengan Pao Din, perwira pasukan China yang menyerang istana raja Kumul.

Namun seiring berjalannya waktu, saat Mustafa Murad Hadrat melakukan taktik perang gerilya bersama para mujahidin yang lain. Tuhan mempertemukan keduanya kembali di Urungi. Dengan menyamar menjadi pembantu perwira Pao Din bernama samaran Torson, Mustafa Murad Hadrat merasa bahwa cinta yang ada dalam hati Najmat Lail telah sirna. Ternyata pernyataanya salah besar. Dengan alasan cinta kepadanya, Najmat Lail membunuh suaminya sendiri. Dan menjalani hidup dalam pelarian bersama Mustafa Murad Hadrat. Keduanya menikah di sela-sela waktu senggang kala perang lagi mereda.

Akan tetapi, peperangan yang terus menerus tak kunjung henti membuat keduanya harus berpisah lagi. Demi bisa menjaga akidah Islamnya, para Mujahid Cinta negeri Turkistan ini mencoba untuk terus bertahan dengan jumlah yang sedikit melalui taktik prang gerilya. Sembunyi di pegunungan, jika terlihat musuh mulai lengah, mereka turun gunung dengan menyerang titik sentral pertahanan pasukan China dan Uni Sovyet. Meskipun pada akhirnya kekalahan selalu ada disebabkan kurang modernnya persenjataan perang pasukan Turkistan.

Akibat makin menipisnya jumlah pasukan Turkistan, maka mengungsilah Mustafa Murad Hadrat bersama para pejuang lainnya menuju Srinagar, Kashmir. Disanalah pertemuan kembali dengan Istri dan anaknya terjadi lagi. Hingga keduanya berkeinginan untuk hidup dipinggiran kota Mekkah. Nah di Mekkah-lah, saat bulan Dzulhijjah Najieb Kailani bertatap muka secara tidak sengaja dengan Mustafa Murad Hadrat yang menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi pedagang tasbih, kopiah dan barag-barang antic. Maka diceritakanlah negeri Turkistan, negeri Islam yang hilang ini pada Najieb Kailani dengan cerita yang sangat menyentuh nurani.

Di tengah Gonjang ganjing politik di dunia Arab yang bergejolak akhir-akhir ini, membuat semua mata tertuju pada dunia Islam. Tentu hadirnya buku ini saat dunia Islam berada dalam kekacauan seperti sekarang, layak untuk diapresiasi dari berbagai kalangan. Baik akademisi, mahasiswa, serta sejarawan, bukan untuk menghadirkan kembali masa lalu yang kelam itu, akan tetapi untuk belajar sejarah tentang pentingnya arti sebuah kebebasan dan kemerdekaan. Dengan membaca buku ini, sejarah peradaban Islam kembali menjadi kajian yang menarik untuk terus dipelajari, diamati dan dicermati. Maka untuk selanjutnya, selamat membaca.



*Penulis Mahasiswa Theologi & Filsafat IAIN Sunan Ampel, serta aktif di dbuku Bibliopolis Surabaya.

IBNU SINA, SKETSA DOKTER TELADAN

Minggu, 20 Februari 2011


     “Saya mengusulkan pada Dewan Dokter dan Dewan Ulama’ untuk melarang keras praktek-praktek dokter yang belum mumpuni. Sebab mereka bisa membahayakan nyawa banyak orang dan selalu menyalahgunakan pekerjaannya untuk mengumpulkan harta benda, emas dan perak”
     
     Itulah salah satu kalimat menarik yang ada dalam buku terbitan Penerbit Zaman ini. Sebab, beberapa hari yang lalu, public dikejutkan oleh kabar masih beroperasinya praktek aborsi illegal yang dilakukan oleh dr. Edward Armando. Dokter kelahiran Suriname ini berdasarkan penyelidikan aparat kepolisian telah melakukan pengguguran terhadap 1500 janin tak berdosa para pasien yang datang padanya. Kalangan dokter di buat meradang karena ulahnya. Kalangan agamawan, apalagi. Etika dalam dunia kedokteran sepertinya sudah tak dihiraukan lagi olehnya. Harta, uang telah membuat dr. Edward menggadaikan profesi terhormat yang menyangkut nyawa manusia.

   Etika kedokteran yang dulu pernah ada, sepertinya harus dimunculkan kembali ke permukaan. Agar nantinya profesi dokter kembali ke-khittah-nya sebagai penyelamat nyawa pasiennya. Dan Hussayn Fattahi adalah salah satu penulis yang mencoba mengingatkan dan melakukan terobosan itu dengan menelurkan karya tulis berjudul asli Sajin Qal’ah al-Aswar as-Sab’ah yang diterjemahkan oleh penerbit Zaman dengan judul Tawanan Benteng Lapis Tujuh.

   Dengan menggunakan metode penceritaan atau novel, Husayn Fattahi menyuguhkan perjalanan intelektual dan spiritual seorang tokoh dalam dunia kedokteran. Kalangan dokter tentu tahu dengan tokoh satu ini. Padanya terdapat kelebihan-kelebihan anugerah dari Tuhan. Guru-gurunyapun mengagumi akan kecerdasan yang melekat padanya. Ia hanya butuh waktu satu tahun untuk menimba ilmu pada guru yang satu lalu berpindah pada guru yang lain.

   Kecerdasannya yang luar biasa menghantarkan perjalanan hidupnya menuju puncak tertinggi dalam dunia keilmuan. Hingga beberapa gelar tersemat didadanya. Dari As-Syaikh ar-Rais, Hujjatul Haqq, Syaraf al-Malik, Mashdar Tasis, ad-Dustur, Aristhu al-Islam, hingga Faylasuf ad-Dahr. Dialah dokter-filsuf muslim, Ibnu Ali Sina atau akrab di kenal dengan nama Ibnu Sina. Di Eropa ia di kenal dengan nama Avicenna. Ia kelahiran Bukhara, Iran.

  Abdullah, ayahnya adalah sosok figure yang sangat peduli dengan pendidikannya. Berusaha mencari guru-guru terbaik untuknya. Syekh Nahawi, salah seorang gurunya yang ahli dalam ilmu al-Qur’an mengajari Ibnu Sina hingga hafal akan isi al-Qur’an saat usianya mencapai sepuluh tahun. Selanjutnya pada Syekh Massah, Ibnu Sina belajar ilmu matematika, handasah dan aljabar.

   Hanya dalam hitungan bulan saja, seluruh ilmu yang ada pada Syekh Massah dikuras habis oleh Ibnu Sina. Merasa apa yang ada pada dirinya telah diambil oleh Ibnu Sina, Syekh Massah mengembalikan Ibnu Sina pada Abdullah, ayahnya.

   Tidak mau berlama-lama, Abdullah kembali lagi mencarikan seorang guru buat Ibnu Sina. Diketemukanlah seorang guru yang ahli dalam ilmu manthiq (logika), filsafat dan hikmah. Guru itu adalah Syekh Abu Abdillah an-Natili, salah seorang filsuf dan ilmuwan andal pada masa itu. Hanya beberapa hari saja Ibnu Sina belajar padanya., Syekh Abu Abdillah an-Natili mengikuti jejak para guru Ibnu Sina yang lain. Menyerahkan Ibnu Sina kembali pada orang tuanya.

   Sattarah, Ibu Ibnu Sina adalah sorang wanita yang salehah.  Selalu menunggu kedatangan Abdullah, suaminya, di depan pintu rumahnya. Meraih dan mencium tangan suaminya bila telah sampai ke dalam rumah. Ia selalu berharap para keluarganya untuk bertandang kerumahnya. Hingga pada suatu waktu, Sattarah jatuh sakit. Sudah tak terhitung dokter yang dipanggil oleh Abdullah untuk mengobati sakit istrinya. Namun penyakitnya tak kunjung jua bisa disembuhkan.

   Tak tega dengan sakit yang terus menerus diderita oleh ibunya. Ibnu Sina muda memutuskan untuk mengobati sendiri ibundanya. Pertentangan di dapat Ibnu Sina dari ayahnya karena menganggap Ibnu Sina masih anak muda. Akan tetapi keteguhan hati dan tekad yang kuat untuk menyembuhkan sakit yang diderita ibunya membuat Abdullah, sang ayah, mengizinkan Ibnu Sina untuk turun tangan mengobati Sattarah, ibunya. Berkat obat-obatan yang diraciknya, ibunya sembuh total dari sakitnya. Berawal dari sanalah, profesi dokter digeluti oleh Ibnu Sina.

   Novel biografi setebal 295 halaman ini tidak hanya mendeskripsikan perjalanan hidup Ibnu Sina dalam dunia kedokteran. Tapi juga mengupas kesabaran, penderitaan dan penindasan yang dialaminya saat bersinggungan dengan dunia politik. Dunia politik sendiri sebagaimana yang dikatakannya adalah buah paling pahit yang diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. (Hal 228)

    Awal mula terjunnya Ibnu Sina ke dalam dunia politik diawali saat menyembuhkan pemimpin Bukhara, Raja Nuh II yang mengalami kelumpuhan total. Imbalan untuknya hanyalah pemberian izin untuk masuk ke dalam perpustakaan Samaniyyin. Beberapa tahun sesudahnya perpustakaan Samaniyyin mengalami kebakaran sangat hebat. Tudingan tangan para pembesar kerajaanpun mengarah pada Ibnu Sina. Hingga akhirnya Ibnu Sina terusir dari Istana Raja Manshur, pengganti raja Nuh II.

   Masuknya Ibnu Sina ke dalam lingkaran kekuasaan tak lepas dari pengobatan yang dilakukannya sebagai dokter pribadi para pembesar negeri yang ia singgahi. Hingga akhirnya nasib buruk menimpanya. Penguasa Turki, Sultan Mahmud Ghaznawi menginginkan ia hidup-hidup. Ribuan pamflet di sebar di seluruh negeri. Penguasa Turki itu menjanjikan 5.000 keping emas bagi siapapun yang bisa menyerahkan Ibnu Sina padanya.

   Bertahun-tahun Ibnu Sina mencoba untuk lari dari kejaran Sultan Mahmud Ghaznawi. Mulai dari Bukhara, Gurghanj, Jurjan, Teheran, Hamadan hingga Isfahan. Di masa pelariannya itulah Ibnu Sina pernah di tahan di benteng Fardajan, benteng yang sangat masyhur di penjuru Hamadan. Selama masa pelariannya itu banyak pula karya-karya dalam bidang kedokteran telah berhasil ditelurkannya hingga bisa menggemparkan khazanah ilmu kedokteran. Diantaranya Al-Qanun fi al-Thibb, As-Syifaa, Al-Hikmah Al-Masyriqiyyah dan Al-Akhlaq.

   Ada satu pelajaran dari Ibnu Sina yang seharusnya bisa dipetik oleh kalangan dokter pelaku praktek aborsi. Yaitu kala Ibnu Sina melakukan operasi pembedahan pada Layla, istri dari raja ‘Ala ad-Dawlah yang mengalami kelahiran sungsang. Pilihan antara menyelamatkan sang ibu dan mengorbankan sang jabang bayi ibarat buah simalakama bagi Ibnu Sina. Namun pilihan tengah diambilnya dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi itu sendiri ternyata berhasil dengan tertolongnya nyawa ibu dan putra mahkota raja ‘Ala Ad-Dawlah.

   Buku yang disunting oleh Damhuri Muhammad ini layak sekali dibaca oleh kalangan dokter khususnya, agamawan, mahasiswa, pencinta sejarah peradaban dan umat Islam pada umumnya. Agar memahami kekayaan khazanah klasik Islam yang begitu banyak serta belajar pada Ibnu Sina tentang begitu berharganya nyawa manusia.



Judul Buku   : Tawanan Benteng Lapis Tujuh

Penulis          : Husayn Fattahi

Penerjemah : Muhammad Zainal Arifin

Penyunting  : Damhuri Muhammad

Penerbit       : Penerbit Zaman

Cetakan       : Pertama, 2011

Tebal           : xiii 295 hal

ISBN            : 978-979-024-266-1



*Peresensi Mahasiswa Theologi & Filsafat IAIN Sunan Ampel, Aktif di Bengkel Menulis Bibliopolis Surabaya

Resensi ini dimuat di koran Radar Surabaya, Minggu 20 Februari 2011

MURAD,BUTIRAN PASIR DARI MAROKO

Rabu, 09 Februari 2011


Korupsi. Kata yang begitu seksi akhir-akhir ini. Kata yang berasal dari bahasa latin Cooruptio ini seakan-akan sudah mendarah daging dalam benak kita.Penyuapan untuk mempermudah urusan bukan hal yang tabu lagi.Problematika penegakan hukum yang masih tebang pilih, serta masih kaburnya kasus yang menampar aparat penegak hukum dengan kaburnya Gayus Halomoan Tambunan makin membuktikan bopengnya wajah hukum di negeri ini. Gambaran detail tentang budaya korupsi dengan gamblang bisa kita ketahui dari novel ini. Meskipun latar kejadiannya di Maroko, akan tetapi ini menjelaskan bahwa di negara manapun korupsi adalah persoalan Universal semua bangsa.

Novel dengan judul asli L’Homme Rompu atau Korupsi ini merupakan hasil terjemahan karya seorang penulis kelahiran Fez, Maroko bernama Tahar Ben Jelloun. Ia mendeskripsikan secara detail proses terjadinya korupsi di Maroko. Meski mengambil setting di Maroko, pola para pelaku di novel ini dalam melakukan korupsi mirip betul dengan pola yang terjadi di Indonesia. Novel setebal 233 halaman ini ia dedikasikan juga untuk Sang Begawan Sastra dari Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Karena dari novel dengan judul sama milik Pram-lah, karya Tahar ini lahir.

Satu kutipan menarik dalam buku ini bisa diketengahkan. Keinginan seorang anak yang mempunyai cita-cita tinggi dalam pendidikannya terpaksa harus gigit jari. Sebabnya, Ayahnya yang merupakan Pegawai Negeri Dinas Pekejaan Umum tidak mempunyai koneksi untuk memuluskan keinginannya.

“Aku belajar saja, kadang aku putus asa, terutama ketika tahu bahwa perlu ada koneksi untuk segala hal. Aku ingin masuk ke Universitas. Tentu saja ada ujian saringan, tapi seringkali hal itu tidak cukup. Perlu ada rekomendasi. Dan hal itu tidak bisa dibeli”.

Itulah ungkapan sang anak pada ayahnya yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko. Murad nama ayah anak tersebut. Seorang Pegawai Negeri yang mempunyai integritas serta kejujuran sangat tinggi dalam bekerja. Pemalu, tapi tidak jika dihadapan Koruptor. Pantang baginya melakukan kongkalikong dengan siapapun. Meski kehidupannya selalu berada dalam kekurangan.

Tugas Murad menyeleksi seluruh berkas yang masuk dalam Kementerian PU. Tanpa tandatangannya jangan harap izin pembangunan akan berjalan. Gelar Insinyur ia raih di Sekolah Insinyur Prancis, serta sarjana ekonomi ia raih di Universitas Muhammad V di Rabat.

Istrinya seorang perempuan berwatak keras, bermata duitan. Hilma namanya. Semua saudaranya bergelimang harta dan hidup dalam kemewahan. Hal itu membuatnya terus menekan Murad untuk meminta komisi dari tiap berkas yang ditandatangani. Keinginannya hanya agar anak-anaknya tidak hidup dalam kesukaran layaknya hidup yang mereka jalani.

Dari hasil perkawinannya dengan Hilma, Murad memiliki dua buah hati yang selalu memberi motivasi untuk mempertahankan kejujuran. Si sulung bernama Wassit. Seorang pelajar SMA yang mempunyai impian untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas melalui program beasiswa. Selalu mengulang pelajarannya tidak di rumah, tapi di jalan raya. Di bawah temaram lampu jalanan. Berkali-kali Murad mengajukan permohonan beasiswa untuk anaknya ini melalui pos. Berkali-kali pula penolakan yang ia terima. Alasannya hanya satu, tak punya koneksi!

Sedangkan si bungsu, Karina, mengidap penyakit asma. Perhatiannya sangat besar pada Murad. Mimpi yang selalu diharapkan jadi kenyataan adalah keinginannya untuk menginap di hotel yang mempunyai kolam renang. Dan Karima berharap kalau ayahnya bisa mengajaknya berlibur ke Tangier. Harapan yang selalu ia pendam sejak dulu.

Lingkungan kerja yang korup, membongkar nalar bebal Murad untuk berlaku korup pula. Ia yang dikenal gigih mempertahankan kejujuran, pada akhirnya runtuh juga imannya. Keinginan yang besar untuk membahagiakan dua buah hatinya membuat Murad melakukan tindak pidana korupsi.

Korupsi pertama ia lakukan kala mempermudah proyek Tuan Sabbane dengan menandatanganinya melalui perantaraan Haji Hamid. Ia yang tidak pernah merasakan memegang uang sebanyak dua juta sen, gemetar badannya. Hingga pertarungan batin terjadi dalam dirinya. Pelajaran tentang keluwesan dalam menjalani hidup akhirnya ia praktekkan juga. Keluwesan dalam artian tidak memegang prinsip secara kaku ia dapatkan dari Direkturnya di kantor. Keluwesan melakukan secara tersembunyi bukanlah korupsi, namun ekonomi parallel. Dan itu diperlukan untuk menjaga stabilitas Negara dari pemberontakan. Pemberontakan para pegawai pemerintah yang digaji sangat kecil. 

Didalamnya novel ini tidak hanya mengisahkan tentang pertarungan batin Murad dalam pekerjaannya. Tapi juga menyingkap konflik rumah tangga antara Murad dan Hilma, istrinya. Pertengkaran yang sering terjadi antara mereka membuat biduk rumah tangga yang dibangun menjadi karam.

Lepas dari Hilma, Murad merasa menemukan cinta sejatinya pada sosok Nadia, gadis yang masih sepupu dengannya. Sedang Nadia sendiri seorang janda beranak satu. Suaminya meninggal dalam kecelakaan mobil saat menabrak truk yang berhenti di jalan tol.Kecintaan Nadia pada Murad karena integritas kejujuran yang dimiliki oleh Murad. Kemarahan Nadia pada Murad saat melakukan korupsi, membuka mata Murad bahwa kejujuran adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Julukan Manusia Butiran Pasir pada Murad merupakan julukan buat manusia-manusia yang tidak mau di suap ataupun melakukan korupsi di tempat kerjanya.

Dengan cermat Tahar menggambarkan modus operandi korupsi di Maroko dalam novel ini. Memberi dan menerima suap untuk memuluskan proyek yang digawangi. Menandatangani berkas-berkas hingga bisa membuat proyek pembangunan di sana sini sudah dianggap hal yang lumrah terjadi. Korupsi sepertinya sudah membudaya dan menjalar ke lapisan paling bawah sekalipun. Dekatnya prilaku korupsi semacam penyuapan dalam kehidupan sehari-hari, membuat keyakinan bahwa perbuatan itu bukanlah bentuk daripada prilaku korupsi.

Meski ending akhir dari novel ini agak membingungkan dengan tidak diketahuinya nasib dari kedua anak Murad. Novel ini layak sekali di baca oleh seluruh kalangan yang ada di negeri ini. Pegawai negeri, Hakim, Pengusaha, serta praktisi hukum. Agar aparat penegak hukum itu bisa mengetahui seluk beluk serta bentuk-bentuk prilaku korupsi. Selain itu, dengan sampul yang bergambar segepok uang dalam amplop, mencitrakan uanglah yang dijadikan rayuan untuk melakukan tindakan itu. Istilah yang ada di tengah-tengah masyarakat KUHP bukan lagi Kitab Undang-undang Hukum Pidana tapi malah Kasih Uang Habis Perkara. Sebab dengan uanglah segala urusan bisa beres.


Judul Buku : Korupsi (L’ Homme Rompu)

Penulis        : Tahar Ben Jelloun

Penerjemah : Okke K.S. Zaimar

Penerbit      : PT.Serambi Ilmu Semesta

Cetakan    : Pertama, November 2010

Tebal : xiii 233 hal

ISBN : 978-979-024-073-5

Peresensi Aktif di Bengkel Menulis Bibliopolis Surabaya

(Resensi ini di Muat di koran Radar Surabaya Minggu,6 Februari 2011)

Indonesia di Mata Diplomat Teh Celup

Selasa, 16 November 2010



“Kekuatan Indonesia terletak pada keberagamannya. Kemakmurannya yang sekarang tumbuh dari tradisi untuk menoleransi serta merayakan perbedaan dan pluralisme”. (Karim Raslan dalam Ceritalah Indonesia)

Mungkin hanya Karim Raslan, warga negara Malaysia yang berani datang ke Indonesia saat konflik dua negara serumpun ini sedang panas-panasnya. Kedatangannya membawa angin sejuk kedamaian bagi hubungan kedua negara. Saat acara bedah buku “Ceritalah Indonesia”di Ruang Sidang Rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tanggal 10 Oktober 2010 Karim memaparkan bagaimana ia jatuh cinta akan negara seribu pulau ini.

Dalam buku hasil perjalanannya ke pelosok-pelosok di tanah air ini, Karim berusaha memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama tiap tutur kata orang-orang yang ditemuinya. Mulai dari perjuangan Ustadz Khoiron yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan normal PSK di Lokalisasi bisnis lendir Bangunsari Surabaya, trauma politik yang di alami oleh I Mangku Munik akibat peristiwa pembantaian besar-besaran warga Bali yang di tuduh sebagai anggota partai terlarang, PKI. Kekagumannya berlipat-lipat pada sosok Haji Bambang, yang berupaya menjaga konsep “menyame beraye” warga Hindu-Islam di Bali agar tetap utuh meski dikoyak-koyak oleh peristiwa Bom Bali. Karim begitu cinta dengan kemajemukan yang dimiliki oleh Indonesia. Suatu hal yang jarang Karim temukan dinegerinya sendiri.

Dalam ranah politik yang sangat kejam sekalipun Karim tak lupa untuk memasukkan sebuah pelajaran demokrasi dari Indonesia yang sangat berharga buat negaranya. Terpilihnya Gus Dur, tokoh organisasi terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama’, sebagai presiden terpilih meskipun mengalami kekurangan fisik membuat Karim mendapat hal baru dalam perjalanannya ke Indonesia. Selain itu Kebebasan Pers yang begitu luas pasca reformasi adalah nuansa yang kontras dengan di Malaysia sejak terpilihnya Gus Dur. Kesimpulan Karim, demokrasi benar-benar maju pesat di Indonesia dibandingkan di Malaysia. Di Malaysia, pers mengalami pembungkaman oleh penguasa. Segala berita yang ada di media mainstream sudah tidak dapat di percaya lagi oleh rakyat Malaysia. Mereka beralih kepada berita-berita yang bertebaran di dunia maya, dunia internet. (Hal. 83).

Selain itu pula, Karim memandang rakyat Indonesia sangat menghargai akan perbedaan, kemajemukan. Kebhinekaan Tunggal Ika yang dimiliki oleh Indonesia menjadi modal perekat perbedaan suku,agama dan ras, bersatu dalam keragaman, Unity In Diversity. Harapan serta keinginan Karim akan adanya tokoh pendorong demokrasi dan pluralisme di Malaysia sangat ia harap-harapkan. Karim berharap etnis Melayu, India dan Tionghoa di Malaysia saling menghargai satu sama lainnya. Potensi konflik antar etnis sangat rentan terjadi di Negara yang memiliki banyak kemajemukan seperti Malaysia. Dan itu Karim sadari. Terjadinya konflik antaragama di Malaysia yang di picu truth claim pemakaian kata Allah membuat Malaysia berada dalam bayang-bayang perpecahan.Kejadian itu berawal dari keputusan Pengadilan Tinggi Malaysia yang memberikan lampu hijau penggunaan kata Allah pada koran mingguan Katolik. Dari sanalah konflik bermula. Ditambah lagi dengan statement tokoh-tokoh partai yang mengatakan bahwa kalangan Melayu Muslim akan murka bila penggunaan kata Allah ditujukan kepada Tuhan kaum Nasrani. Statemen tokoh partai ini malah menjadi pemantik aksi teror terhadap gereja-gereja yang menggunakan kata Allah dalam kebaktiannya.Relevansi pemikiran Gus Dur menurut Karim harus dilakukan oleh Malaysia. Hadirnya tokoh politik dan ulama’ senior dari partai Pan Malaysia Islamic Party (PAS), Nik Aziz yang berpikiran moderat, toleran, inklusiv serta memiliki komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil membawa harapan baru lahirnya tokoh macam Gus Dur versi Malaysia. Kehadiran Gus Dur versi Malaysia ini sangat diharapkan betul oleh Karim untuk mengubah pola pikir rakyat Malaysia yang konservatif dan ortodok.

Membaca esai-esai Karim sebanyak 29 kolom dalam buku ini, dipaparkan pula masa depan hubungan bilateral kedua Negara. Meski akhir-akhir ini sering kali terjadi konflik perbatasan antara dua Negara, hal itu selayaknya tidak menjadikan kedua Negara untuk melakukan konfrontasi secara terbuka. Persamaan Indonesia-Malaysia terletak pada adanya kesamaan dalam bidang budaya, bahasa, agama hingga hal-hal kecil sekalipun. Kekuatiran Karim akan turun tangannya Negara luar dalam konflik perbatasan dua Negara serumpun ini dikuatirkan malah akan memperkeruh suasana. Karim berharap agar kedua Negara ini focus pada selat Malaka yang sudah sekian lama diincar oleh Negara Paman Sam, Amerika Serikat. Dengan melakukan pendekatan diplomasi cultural, Karim layaknya Teh Celup. Yang bila dicelupkan maka teh itu akan menyebar menyairi warna air dan rasanya menjadi berubah. Pendekatan dengan menggunakan diplomasi cultural seperti ini jauh lebih bermanfaat terasa di banding menggunakan pendekatan diplomasi lewat jalur politik. Buku Karim ini layak di baca oleh kalangan umum, Mahasiswa, sejarawan serta kalangan pelajar agar bisa mengetahui Indonesia dalam pandangan intelektual dan penulis dari Malaysia.Wallahu A’lam Bis Showab.

Judul : Ceritalah Indonesia
Penulis : Karim Raslan
Penerbit : Pustaka Populer Gramedia
Cetakan : Cetakan I September 2010
Teball : xxi+136 hlm : 13,5 cm x 20 cm

Rabu, 24 Juni 2009


TAKUDAR KHAN : PAHLAWAN MUSLIM MONGOL YANG TERLUPAKAN

Mungkin, pembaca sudah sering mendengar nama tokoh-tokoh besar kaliber dunia yang berasal dari Mongol semacam Genghis Khan, serta Tuqluq Timur Khan yang dikenal dalam dunia Islam sebagai Timur Lenk. Namun, tahukah para pembaca dengan seorang tokoh yang juga sama-sama berasal dari Mongol yang bernama Takudar Khan?.
 Jarang sekali ada penulis yang mengangkat tokoh bernama Takudar Khan ini, padahal ia adalah putra pertama dari Tuqluq Timur Khan, sang penguasa Mongolia. Novel bergenre sejarah yang berlatar belakang budaya Mongolia ini termasuk salah satu novel yang berusaha mengenang kembali pahlawan Muslim yang hampir dilupakan oleh para generasi Muslim saat ini.
Alur cerita novel ini dimulai ketika Tuqluq Timur Khan melakukan sumpah “anda” dengan Syekh Jamaluddin. Sumpah ”anda” itu sendiri adalah sumpah persaudaraan khas Mongolia,dimana dua orang menyayat ibu jarinya hingga meneteskan darah kemudian disatukan. Hal itu dilakukan sebagai simbol sebuah persaudaraan sejati. Kaisar Tuqluq Timur Khan melakukan sumpah itu karena tertarik dengan ajaran Islam yang mengajarkan kedamaian dan ketentraman dalam menjalani hidup ini. Serta dia juga bersumpah untuk menjadi seorang muslim apabila cita-citanya untuk menyatukan Mongolia sudah tercapai.(Hal 14)
Akan tetapi belum sempat menepati janjinya, Timur Khan beserta Permaisuri Ilkhata dibunuh oleh orang-orang yang ada disekitarnya disebabkan ketidaksukaaan mereka melihat begitu percayanya Kaisar pada orang-orang Muslim. Akhirnya sumpah “anda” itu sendiri diwariskan kepada kedua anak mereka. Kaisar memilih Putra pertamanya Takudar sebagai penerima waris sumpah itu sedangkan Syekh Jamalluddin memilih putranya yaitu Rasyiduddin,.  
Karena terbunuhnya Kaisar Tuqluq Timur Khan, maka demi menjaga terpenuhinya sumpah “anda” itu Takudar disarankan oleh Permaisuri untuk pergi melarikan diri dengan ditemani oleh Ying Chin atau Uchatadara, pelayan setia permaisuri yang berasal dari suku Tar Muleng.
Menjalani kehidupan yang selalu berada dalam intaian orang-orang yang berusaha untuk membunuhnya, membuat Takudar dan Ying Chin berganti-ganti identitas untuk menjaga keselamatan mereka. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan putra Syekh Jamaluddin yang dengan rela hati memberikan tempat persembunyian di Madrasah Babussalam, Syakhrisyabz. Selama tinggal di Syakhrisyabz inilah Takudar mempelajari ilmu agama dan menyusun sebuah  rencana untuk mengambil alih kembali kekaisaran Mongol yang menjadi haknya dari tangan Arghun Khan, adiknya yang selalu dipengaruhi oleh rencana jahat Albuqha Khan.
Di dalam buku ini, selain menjelaskan liku-liku perjalanan Takudar Khan dalam menggapai puncak kekaisaran Mongol, penulis juga  berhasil mempersembahkan panorama alam dan budaya Mongolia dengan pemakaian bahasa tutur dan istilah yang bisa memainkan imaji dan emosi  pembaca. Begitu lihainya penulis bermain dengan kata-kata sehingga terpampang dengan jelas bagaimana tarian bielgee, nyanyian jangar, elkhendeg, serta joroo mori diiringi petikan moriin khuur dan khulsan khuur  yang dibawakan oleh Urghana dan Bayduna saat menemani Kaisar Arghun Khan melakukan ekspedisi penaklukan. Dari sanalah penulis secara diam-diam memberi pengetahuan kepada pembaca akan budaya Mongolia.
Tak lupa pula penulis juga memasukkan romantika cinta segitiga antara Arghun Khan, Buzun dan Urghana. Hingga menambah bobot buku ini semakin menarik untuk dibaca. Cinta segitiga antara Arghun, Buzun dan Urghana ini dapat membuat pembaca berlinang   air mata tanpa terasa. Kisah cinta dan kekejaman Arghun pada Urghana dengan menodai kesuciannya tanpa sebuah ikatan pernikahan. Hal itu dalam tradisi Mongolia merupakan bentuk penghinaan yang sangat pedih.
Serta kerinduan Urghana pada Buzun yang meninggalkanya dan pergi dari istana tanpa memberitahu  terlebih dulu membuat Urghana merasa bersalah. Sebuah kisah cinta yang sangat indah, kesetiaan serta pengorbanan merupakan mutiara yang ada dalam buku ini     
Namun ada beberapa hal yang dirasa kurang lengkap dari buku ini diantaranya adalah  tak adanya gambar peta penaklukan yang pernah dilakukan Genghis Khan hingga dijadikan rujukan oleh Arghun Khan untuk melakukan ekspedisi dalam rangka melanjutkan kembali apa yang belum pernah dilakukan oleh Ghengis Khan yaitu menaklukkan Jerussalem.
Terlepas dari  kekurangan itu, buku ini tetap layak untuk dikonsumsi bagi generasi Muslim, sejarawan (Islam), peneliti, lebih-lebih para pendidik atau Guru sejarah di sekolah Islam ataupun umum, agar tokoh yang diangkat dalam buku ini tidak hilang dari sejarah peradaban Islam. Yang pertama karena karakter tokohnya yang sangat kuat serta intrik-intrik dan konspirasi yang dipakai para tokoh dalam buku tersebut dalam menggapai keinginannya. Kedua, belum ada seorangpun penulis yang pernah mengangkat tokoh yang hampir dilupakan dalam sejarah Islam ini. Ketiga, agar tokoh dalam buku ini dapat dijadikan teladan bagi generasi muslim saat ini. Teladan dalam sikap kebijaksanaanya serta toleransinya yang tinggi terhadap penganut agama atau golongan lain, satu hal yang hilang dari bangsa yang majemuk ini.

Judul               : The Road To The Empire
Penulis            : Sinta Yudisia
Penyunting      : Ahli Maman S. Mahayana
Penerbit          : PT Lingkar Pena Kreativa
Eahyn terbit    : Cetakan I, Desember  2008
Tebal               : 586 Halaman :20,5 cm
 
Support : Mas Template
Copyright © 2011. SHOFA AS-SYADZILI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Edited by Arick Evano
Proudly powered by Blogger