
Dari
sanalah saya kemudian melakukan pencarian terhadap koran dan majalah yang
dijadikan referensi oleh peneliti Centre Nationale de Recherche Scientifique,
Paris, Prancis itu. Penelusuran saya mulai dari harian milik Partai Masyumi
yang sempat berjaya di tahun 1950-an, yakni Harian Abadi. Saat
mencoba membaca koran Harian Abadi di Perpustakaan Nasional RI
yang terletak di jalan Merdeka Selatan, minat untuk tenggelam dalam dunia arsip
kemudian tumbuh. Hal ini dikarenakan informasi yang didapat dari
menelusuri arsip-arsip lawas itu di luar pengetahuan yang saya dapat selama
ini. Terutama pengetahuan soal organisasi di mana saya dulunya sempat berproses
di dalamnya, HMI.
Di
koran Harian Abadi, edisi 30 November 1958, pada rubrik ‘Kami Perkenalkan’,
koran yang afiliasi politiknya ke Partai Masyumi itu mengangkat profil Ketua
Departemen Keputrian PB HMI, Titie Raya. Libido saya bangkit seketika untuk
membaca koran lawas yang sudah berbentuk microfilm itu. Meski rangkaian kalimat
yang tertera pada koran lawas berbentuk microfilm itu sudah agak sulit untuk
dibaca, saya memaksakan diri untuk membacanya hingga tuntas. Kacamata saya
lepas. Agak sulit membaca koran yang sudah bulukan itu bila masih menggunakan
kacamata. Begitu pikirku.
Dalam
rubrik itu dikatakan, selain sebagai aktivis di HMI, Titie Raya juga memiliki
minat dalam dunia pers. Terbukti ia menjabat sebagai Redaktur pada majalah ‘Wanita’
Jakarta. Tak hanya itu. Titie Raya juga memiliki keahlian dalam berdeklamasi.
Pernah pada bulan Juli 1958, dilangsungkan Pekan Kesenian Mahasiswa
se-Indonesia di Yogyakarta. Dan Titie Raya ikut sebagai salah satu pesertanya
di sana. Kegemarannya dalam membaca puisi dan bakat seni yang ada dalam
dirinya, posisi sebagai runner up pun digondolnya.
Selain
memiliki darah seni, Titie Raya juga menyimpan sikap kritis terhadap aktivitas perempuan
yang ada saat itu. Terutama munculnya kontes-kontes kecantikan yang berupaya
mencari dan menyaring perempuan potensial. Pagelaran itu dikritiknya habis-habisan.
Ia tidak setuju terhadap adanya kontes-kontes kecantikan itu, yang menurutnya,
para penonton tidaklah melihat pada pakaian yang dikenakan oleh perempuan yang
sedang berjalan di atas catwalk itu. Melainkan melihat pada fisik perempuannya saja.
Berbeda dengan kontes pakaian pelajar atau mahasiswa yang pernah digelar oleh
HMI di Solo. Pada pagelaran kontes yang digelar HMI, aspek kesopanan, praktis,
ekonomis, harmonis, dan tentunya memperhatikan norma-norma kesusilaan budaya
ketimuran lebih ditekankan dibandingkan pada penonjolan fisik belaka.
Dalam koran Harian Abadi itu juga diterangkan Titie
Raya gemar dalam dunia tulis menulis. Terutama dalam menulis cerita-cerita
pendek atau cerpen. Kegemarannya itu, katanya, karena menulis bisa dilakukan
tanpa meninggalkan aktivitas kuliahnya. Penting untuk diketahui, Titie Raya ini
berasal dari Bojonegoro Jawa Timur. Ia menyelesaikan studi SMA-nya di kota
Malang kemudian melanjutkan kuliahnya pada Jurusan Ilmu Purbakala, Fakultas
Sastra Universitas Indonesia. Nama aslinya adalah Titie Said Sadikun. Ia lahir
pada 11 Juli 1935.
Kembali
pada penelusuran arsip-arsip lawas tadi. Setelah membaca profil Titie Raya itu,
rasa penasaranku semakin tinggi. Segera saya melacak nama ini. Pada Mbah Google
saya bertanya. Saya ketik namanya. Enter. Muncul data tentang sosok Titie Raya
ini lengkap beserta karya-karya yang telah ditorehkannya serta aktivitas
perjuangannya baik di ranah sastra dan dunia politik. Ternyata, Titie Raya
pernah menjabat sebagai anggota DPRD Fraksi Golkar di DPRD Provinsi Bali, tanah
kelahiranku.
Saya
baca beberapa pendapat dari kalangan sastrawan dan budayawan tentang sosok satu
ini. Misalnya dari Paus sastra Indonesia, HB.Jassin, yang mengatakan kalau
Titie Raya ini memberikan kesan yang jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan
pengarang wanita lainnya. Ajip Rosidi bahkan mengatakan bahwa Titie Raya adalah
sosok cerpenis yang sangat terampil dan rajin melukis serta memotret panorama Indonesia
lewat karya-karyanya. Pendapat dan pandangan dua sastrawan itu makin membuat
rasa penasaranku semakin tinggi.
Segera
saja saya menulis beberapa catatan media massa mana saja yang pernah menjadi
tempat Titie Raya bekerja dan menuliskan pandangan-pandangannya, baik lewat
tulisan berbentuk opini atau pun cerpen. Majalah mingguan Hidup, majalah
Wanita, Majalah Brawijaya, Roman, Widjaja, Indonesia,
Berita Minggu, Star Weekly,Varia, Sastra, Kartini,
Putri Indonesia dan Ananda menjadi target pencarian
selanjutnya. Pada buku tulis kecil yang selalu kubawa, tak lupa pula saya
tuliskan judul-judul karya tulisnya. Saya ingin melacaknya. Saya ingin membaca
karyanya. Mengetahui pandangannya yang disampaikan lewat tulisan-tulisannya
itu.
Bermula
dari Remy Madinier, saya dituntun ke Harian Abadi, kemudian diperkenalkan ke
Yunda Titie Raya dan tenggelam masuk dalam majalah Hikmah yang
dikeluarkan oleh pentolan-pentolan Masyumi. Lagi-lagi saya menemukan informasi
dan data baru yang belum pernah diketahui sebelumnya saat berproses di HMI.
Melalui tulisan Deliar Noer dalam majalah mingguan Hikmah 4 Juni 1955 yang berjudul
Sedikit Tentang HMI : Konferensi Akbar di Kaliurang, yang
mengatakan bahwa PB HMI pada tahun 1954 pernah menerbitkan majalah dengan nama ‘Media’
yang telah terbit sebanyak 12 edisi. Membaca data itu, semangat investigasiku
makin berlipat-lipat.
Saya
telusuri lagi nama majalah itu di Perpusnas. Dibantu Akril (HMI Cabang
Kendari), saya mengetik nama majalah itu pada komputer yang siap sedia melayani
pembaca untuk mencari referensi bacaan yang diperlukan. Alhamdulillah ketemu.
Namun hanya ada tiga edisi saja. Itu pun tahun terbitnya bukan tahun 1954,
melainkan tahun 1959. Semangat sudah mulai menurun karena tak sesuai
ekspektasi. Di sisi lain, pikiranku sudah mulai meraba-raba dan menganalisa
tiga edisi majalah Media yang ada di hadapanku. Saya mulai membuka lembar demi
lembar majalah Media itu. Membacanya sekilas sambil membayangkan para pendahulu
yang bersusah payah menuliskan perjuangan HMI waktu itu.
Saya
berpikiran, andai saja para pendahulu itu tak menuliskan aktivitas HMI di masa
mereka, maka, saya yakin generasi selanjutnya tak akan pernah mengetahui sepak
terjang dan perjuangan HMI di masa lalu. Dengan ditulis, ia abadi. Ia menjadi
penjaga ingatan. Menjadi tapak kaki yang perlu untuk ditelusuri jejak-jejaknya.
Semakin menelusuri, semakin masuk dalam samudera ilmu pengetahuan tak bertepi,
dan semakin tak ingin kembali. Selalu ingin berduaan bersama arsip-arsip lawas
itu.
Saya
sangat menyayangkan minimnya minat para kader HMI dalam mencari, menjaga dan
merawat ‘penyimpan ingatan’ itu. Entah apakah ini dikarenakan kerja-kerja mencari
‘penyimpan ingatan’ itu sepi dari riuh tepuk tangan, puja-puji dan minim
materi. Ataukah ini dikarenakan telah menipisnya hasrat kader HMI dalam
menekuni dunia pengetahuan dan keintelektualan yang tersimpan dalam buku-buku,
arsip, koran dan majalah? Wallahu A’lam. Saya tak tahu. Yang kutahu, kutemukan
kenikmatan di sana saat mencari ‘penyimpan ingatan’ itu yang masih berserakan. Dan
saat menemukannya, lalu digandakan untuk arsip perpustakaan pribadiku.
Menjaganya kemudian melestarikannya sebagai bahan untuk tulisan-tulisanku
nantinya.
Jakarta,
19 Februari 2019
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !