Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

HARUSKAH KAU BUNUH KATA-KATA?

Jumat, 14 Juni 2013

“ Di dunia ini, banyak darah dan air mata mengucur gara-gara bahasa. Pedang dihunus, massa dimobilisasi karena bahasa. Aneka kebahagiaan, kehormatan, sakit hati dan kekecewaan berawal dan berakhir dengan kata-kata” (Dr. Ariel Haryanto dalam Perlawanan Dalam Kepatuhan)

            Ah inilah yang terjadi padamu. Kau terbunuh oleh kata-kata yang diucapkannya. Tanpa kau sadari, ia yang sudah sebulan lamanya menghabiskan waktu dalam dekapanmu, ternyata masih terpenjara dalam kelamnya masa lalu. Ia masih terkenang dengan ksatria yang pernah bertahta dihatinya. Tak mudah melupakannya.

            Seketika kau lemas. Tak ada tenaga yang bisa menopang seluruh sendi-sendi tubuhmu. Kau terkulai. Tenagamu lenyap seketika. Buku yang ada ditanganmu kau dekap. Erat. Kau dekap erat buku itu seakan-akan buku itu kekasihmu. Ya…! Bukulah kekasih sejatiku. Tak sekalipun ia meninggalkanku. Kemanapun aku, bagaimanapun aku, ia selalu menyertaiku. Begitu gumammu dalam alunan kesedihan.

            Apa lagi yang yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan, bila masa lalu masih menyergap, masih mengurung diri? Bukankah ujung dari sebuah hubungan berakhir di altar pernikahan? Kata-kata menghancurkan semuanya. Kata-kata membombardir pertahananmu yang kukuh selama ini. Dan kaupun bertekad dan berniat dalam hati untuk membunuh kata-kata yang ada di permukaan bumi. Kau buru dimanapun kata-kata berada.

           Kata-kata di langit kau bunuh. Di sungai kau tebas. Di pelataran sawah kau tusuk dengan bengis. Hingga tak tersisa satupun kata-kata yang ada di atas bumi. Hanya ada sebagian kata-kata yang masih tersembunyi dalam lembaran kertas dalam bentuk buku. Dan itu ada dalam tas dipundakmu. Seusai kau berkeliling menelusuri seluruh wilayah di atas permukaan bumi. Kaupun mengalami kelelahan. Terduduk. Terdiam seribu bahasa. Kau membuka tasmu untuk mengambil sepuntung rokok yang kau sisipkan di sela-sela saku baju dalam tasmu.

            Kau terbelalak saat masih ada kata-kata yang tertulis di buku dalam tasmu. Seketika kau congkel tiap kata itu. Kau tebas lehernya. Kau gantung kata-kata itu sebagaimana massa rakyat menggantung penguasa otoriter Rumania Nicolae Ceausescu di alun-alun istana negara. Tebasan terakhir itu membunuh kata-kata untuk selamanya. Darah kata-kata berceceran dimana-mana. Kaupun mengalami keletihan yang sangat setelah usai bertarung habis-habisan dengan kata.

            Di atas langit, burung gagak terbang bergerombol siap menyantapi daging-daging kata yang berceceran. Kau berkehendak untuk berteriak namun kerongkonganmu tercekat. Kau tak bisa bicara. Kau tak bisa berkata karena semua kata telah kau bunuh dengan bengis. Tak
ada apa-apa lagi di dunia selain dirimu yang berjalan sempoyongan tak punya arah dan tujuan.

            Kaupun mengutuk dirimu dalam kesepian dunia, membunuh kata sama dengan membunuh pengetahuan. Kata adalah anak kandung dari Firman Tuhan. Sebelum adanya alam, kata sudah ada, kata sudah eksist.  Setelah alam tiadapun, kata akan tetap ada. Karena kata adalah Firman-Nya. Dengan membunuhnya kau merasa diri menjadi Tuhan. Kepongahan itu yang akan membunuhmu perlahan-lahan.

Surabaya, 16 Desember 2012.




GADIS BERMATA BOLA


Gemerincing alunan jiwa menapak kalbu
Nyanyian rindu melontarkan gejolak nafsu
Meringkuk dalam kesendirian
Hanya bertemankan angin kesepian

Perahu kerinduan masih berlayar dalam gelap
Alunan dan tetabuhan bertalu-talu tak pernah senyap
Setapak jalan itu selalu kau ingat
Saat gadis bermata bola menatapmu dengan lekat

Lautan kata-kata tak bisa bersandarkan dermaga hatinya
Sebab di sana masih terdapat sauh musafir lalu
Kau lihat gadis itu menari-nari
Menyenandungkan bait lagu menyayat hati

Dari kejauhan kau mencoba melukis kesunyian
Secauk wajah gadis itu tak jua hilang dari ingatan
Kau ingat saat jilbab birunya tersentuh hidungmu
Aroma wangi menyebar menembus hatimu 

Hai, Lihatlah
Dari kejauhan gadis itu tersenyum simpul kepadamu
Membuat gejolak jiwa kembali bergemuruh dalam debur ombak asmara
Langit-langit jiwamu kembali merona-rona
Karena senyumnya tertinggal dalam pelukan cakrawala

Surabaya 22 oktober 2012 
Saat sepi menggelayut mesra hatiku

BAKAR....BAKARLAH..!!!


Perjalanan ini membutuhkan waktu yang panjang
Melelahkan,meletihkan semua muanya
Hingga nafas terengah-engah dalam dada
Kemudian tertinggal dalam kebisuan alam

Bakar....!!!
Bakar saja kapal itu..
Eksistensi dirimu lebih berarti dibanding kapal tua itu
Kapal lapuk itu

Bakar...!!!
Bakar kapal lapuk itu
Samudera di sana lebih ganas
Dengan ombak terjang dan menghempas

Bakar...!!
Bakarlah...Kapal lapuk itu..
Ganti dengan Kapal Baru....
Yang tiang pancangnya kokoh tertutupi ketawakkalan
Yang layarnya teguh meski tertiup angin merah kesyirikan
Yang gladaknya tegar bersandarkan Laa Ilaaha Illallaah....

Bakar...!!
Bakarlah Kapal Lapuk itu..
Perjalanan masih panjang kawan..

Kau ingin jadi manusia otentik bukan? 
Jadi Manusia Sejati?
Jadi Al-Insan Al-Kamil?
Manunggal dengan-Nya?

Tak ada jalan  lain...
Bakar...!!!
Bakar Kapal itu....
Ganti dengan kapal baru...
Lalu lanjutkan perjalananmu...

Biarkan saja dulu orang orang itu
Dalam selimut kelalaian
Dalam pakaian kesombongan
Dalam jubah kebodohan
Mereka tak akan pernah menemui dermaga buat bersandar

Kelak mereka akan menaiki kapalmu
Yang ditiup angin keihlasan
Dengan nafas mengucap Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rosulullah
Mengarungi samudera luas...
Ganas....!!!

Lalu...
Bakar..!!!
Bakar lagi kapal itu...
Kemudian buat Kapal Baru...
Karena hidup adalah perjalanan
Tanpa kenal kata henti.

Gang Setan, Selasa 02 Oktober 2012

PERAHU SUCI


Malam menggelayut mesra di ujung mimpi
Menepi sendiri ditemani derai tangis dan air mata
Sedang perahu kerinduan terus berjalan tanpa arah dan tujuan
Terombang ambingkan oleh ombak kenyataan

O....
Dia yang memegang jalan hidup
Kembalikan hati yang mati tuk hidup kembali
Agar desir hati tertoreh kalam ilahi

Bukan...
Bukan bidadari  yang kucari
Bila senyumMu tak bisa kucuri lagi
Dari air suci dan lembaran kitab suci...

Diwajahnya kutemui diriMu
Disenyumnya kulihat wajahMu
Dibalik hijab yang menutupi dirinya, kulihat diriku tertutupi oleh rahimMu
Dimatanya terlihat mataMu mengawasi gerak gerikku

Dekat
Tak bisa kusentuh
Tak bisa kuraba
Tak bisa apa-apa
Apakah harus bermandi kalamMu dulu agar bisa merengkuhMu dan dirinya?

Surabaya,24 September 2012.

TAKBIR ALAM

Jumat, 03 Februari 2012


Suara itu terdengar syahdu dalam gelap malam
"Fabi ayyi 'alaa irobbikuma tukaddzibaan"
Nikmat Tuhan mana lagi yang kan kau dustakan?

terhentak
Terhenyak dalam dingin malam.

Tersentuh
Aroma langit mencakar cakrawala
Dalam tahmid alam bersuka cita
Jiwa-jiwa kotor tersungkur malu

Menyulam malam dengan bingkai hembusan nafas suci
suci sesuci bayi yang lahir kembali
Daki-daki hati menutup diri
RitMe kepala bergerak mengikuti

Subhanallah
Alhamdulillah
Inna lillah......

O Dia Yang Maha Suci
Kedipkan mata pada diri yang dengki
Gelegar takbir meruntuhkan dunia imaji
Dosa menyingkir dari langkah-langkah kaki..

Getar
Liar..
Hancur rusakkan mawar
Mawar cinta sembunyi di ujung dzakar

Allaahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qoyyum
Ai....Iblis datang mencoba tuk mencium
Bau busuk nafas dosa di ujung hidung

Anyir....Bangkai....
bersatu bergulung-gulung...

Tarian Rumi jadi teman dalam kubur
Syair Al-Hallaj jadi penjaga dubur

Ana Al-haq
Ma fil Jubah Illaaah....
Geleng-geleng....Allah tertawa dalam kesendirian-Nya
Melihat para manusia yang menuju pada-Nya

Jangan
Jangan ikut putaran zaman
Yang menawarkan arak kehidupan
Itu dosa itu jebakan

Lalai
Seribu kali lalai
Berbuat dosa jadi perisai diri
Tak tahu kalau nasib ada di ujung Jari...

“RESOLUSIKU”


Merajam diri dengan kata
Mencoba mencari arti
Apa dan mengapa
Tak kutemui jawabnya
Dalam keheningan keramaian kota

Ku coba mencari jawabnya lagi
Diantara fatwa para pujangga
Tak ada.....
Tak akan kau temui jawabnya
Bisik angin malam dalam kamar

Bak musafir di padang gersang
Aku kehausan kerongkongan kering kerontang
“Monoton“ ejek ilalang
Mengapa tak kau buka isi kepalamu
Dengan hal-hal baru.

Gelap......
Eksistensi hilang
Kata-kata, kuharap kau jangan ikutan hilang
Aku akan bimbang
Sebab kaulah senjata buat “Sang Petualang“

Bila jubah kebodohan masih melilitku
Lepaskan ia dengan Kaf dan Nun-Mu
Bibir melepuh...
Hati bersimpuh ....
Kepala tetap tak patuh

Sombong....
Teriakan semesta memekakkan telinga
Butakah mata hatimu
Bahwa alampun menundukkan kepalanya

Lapuk....
Sejadah lapuk
Al-Qur’an lapuk
Sarung dan pecipun lapuk
Hati malah lebih lapuk

Laknat....
Jalan hidup dilaknat
Oleh-Nya Sang Pelaknat
Pemilik Eksistensi Keabadian
Pemberi selamat

Masih adakah setitik rindu....
Mereguk gairah tanpa cinta dan birahi
Cukup dengan kata
Hanya kata
Cuma kata
Kata.....

O Kalbuku yang sepi
Sepi dari bisikan rindu
Bawakan kata kembali padaku
Agar terang kembali hidupku

Aku ingin bersetubuh dengannya
Kembali seperti dulu
Mencium
Menjilat
Menggigit puting-puting kata
Agar dengannya dunia bisa ku tata

Di tahun ini
Naga milikku kuharap menari-nari
Baik dalam syair ataupun puisi
Agar tak ada dunia ilusi
Yang terbayang di dalam hati

Kawan.....
Buka matamu
Sadarkan dirimu
Bahwa dunia adalah tempat nisbi bertahta

Surabaya, 31 Desember 2011
Pukul : 23 : 53 Wib.

TASBIH SEMESTA

Jumat, 04 November 2011


Tersungkur dalam buaian dan kelembutan dosa
Tiada ruang kosong dalam hati tuk sekedar mengingat-Nya
Gelap....sunyi sesunyi Muhammad dalam kesendiriannya
Yang terjadi apa kata-Nya...
Apa kehendak-Nya...

Tak ada pilihan lain selain diam dan do'a
Agar hati tetap teguh dalam iman kepada-Nya
meski dosa menumpuk, menggumpal menutup hati
Selalu diam dan doa mengharap pancaran ilahi

Tumpah...
Semua muanya tumpah....
Tumpah dalam darah
Tumpah dalam resah
Tumpah dalam gundah....

Adakah jalan bagi hati yang tertutup daki?
Adakah bersih bagi hati yang ternodai?
Adakah mahabbah bagi jiwa-jiwa yang sepi?
Sepi dalam kesendirian
Sepi dalam kehinaan
Sepi dalam sepi.....

Dzikir semesta melembut lagi
Entah sampai kapan terus begini....
Kadang Jalan terjal mendaki
Jalan curam tak bertepi....
Ujungnya tak ditemui.....

Rabbi...
Di sini dalam kesendirian ini....
Tasbih semseta menjadi penyejuk hati
Membuka hati yang telah lama mati
Berharap terus dalam kondisi begini
Berada dalam dekapan lembut Engkau Sang Pelembut Hati....

Tundukkanlah hati hati yang dengki
Yang tak mau sujud di atas bumi

SUARA JIWA

Kamis, 18 Agustus 2011


Menari....Menyanyi..... Menyenandungkan bait bait suci....

Sabda Pemilik Langit tak mungkin ingkar janji

Sebab Ia-lah pemilik kebahagian sejati

Merapal kata suci di gelap malam
Bibir bergetar...Tangan terkepal ...hati tergenggam...
Membikin Jiwa merasa hitam kelam
Di hadapan Ia Sang Pemilik Siang Dan Malam....


O Dia yang tak kutahu keberadaan-Nya...

Gelapnya malam membuatku mencari-Nya...

Dalam bisikan lembut angin malam dan tatapan kejam Ibukota...



O Dia yang nun jauh di sana....

Berapa lama harus kumencari-Nya...???

Berapa samudera yang harus kulalui untuk membawa-Nya....??

Untuk memeluk-nya..

Dalam dekapan hangat kulit ciptaan-Nya.....



Wahai Kau Yang Ada Di Sana....

Kapan waktunya perjumpaan kita....?

Tolong beri jawabnya....

Hati ini resah, jiwa meronta...



aku tahu Kau cemburu

Karena tak pernah kumengingat-Mu..

Hingga Kau pergi jauh dariku....



O Aku adalah diri-Mu

Diri-Mu adalah Aku....

Dalam Cinta tak ada Aku dan Kamu....

Karena Kita telah melebur menjadi Satu.....



Laaaaaa Ilaaha Illallah...

Laaaaaa Ilaaha Illa Anta...

Laaaaaa Ilaaha Illa Ana......



Allaahu...Allaahu............Allaaahu......

Lahu...Lahu.....Lahu.....Lahu....Lahu.......

Hu....Hu.....Hu....Hu......Hu.....Hu..........

Rindu

Senin, 09 Mei 2011



Mendesah....

Mengejang...

Merapal kata suci kenikmatan di atas kapal-kapal jiwa...

o Ia yang berkuasa atas jiwa jiwa manusia

Lemparkan aku dalam hening....

dalam bening....

dalam pening...

dalam kening....



Adakah waktu buatku tuk mengecup kembali kening-Mu agar hati menjadi bening...

Sebening air suci zannatul firdaus....Sebab aku tak mau...

aku tak mau.....

terbakar....

terkapar...

terjengkang dalam amukan cemburu-Mu...



Bebaskan aku sejenak dari jerat-jerat tatapan mata-MU

Meski ku akui....

aku rindu kerling mata-Mu..

aku rindu belaian tangan-Mu...

aku rindu kehangatan tubuh-Mu...

aku rindu bersetubuh dengan-Mu...

Jangan hanya Rumi...

Jangan hanya Fariduddin Attar..

Syibli...

Alhallaj..

Ain Qudat..

Al-Ghazali..

Iqbal..

atau Rendra sekalipun..

Yang Kau lempangkan jalannya menuju arah-Mu...

aku juga Rindu.....

aku rindu..

aku rindu..

aku rindu...

aku rindu...

aku rindu....

rindu.....

rindu....

rindu..

rindu..

rindu..

rindu...

INILAH DZIKIR RINDUKU DZIKIR KALBUKU...

Dalam Dzikir kudengar....Alhamdulillah, Elhamdulillah All praises to Allah, All praises to Allah Alhamdulillah, Elhamdulillah All praises to Allah, All praises to Allah.....

BUNTU


Buntu.....

Buntu.....

Terasa ada yang menghimpit pikiran ini....

aku tak tahu siapa dan mengapa???

Tak ada yang bisa kulakukan....

selain terdiam...

berperang melawan pikiran sendiri....

agar mau mengalir seperti kemarin-kemarin..



Ah.....

Tak tahukah kau buntu?????

Kalau aku butuh ide-ide segar pikranku tadi malam...

Ku buang waktu percuma hanya dengan melongo di depan komputer butut....

Kuhabiskan waktu dengan mengisap dalam-dalam batang rokokku...

satu, dua, tiga hingga sebungkus rokok tak tersisa...

kau tak juga menghilang dari pikiranku.....

tak satupun kalimat yang bisa mengalir dari otakku...

Rokok jadi abu....

Ku tiup berterbangan...

Tapi kau tak juga ikut terbang bersama abu-abu rokok...

Tuk menyatu dengan alam....



Buntu.......

apa sih maumu???

mau menghambat upayaku untuk menulis???

Tak bisa.....!!!!!

Tak akan bisa!!!!!

Tak akan pernah bisa!!!!



Enyahlah!!!!

Segera enyah dari otakku...

Buntu.....

Mahluk mana sih dirimu????

Tak tahukah kamu bahwa di luar sana ada ribuan manusia menunggu ide-ide segar dari otakku???

tak tahukah kamu kalau sekiranya tidak segera pergi dari kepalaku...akan kuhancurkan dirimu.....

Pergi!!!!!

Cepat Pergi!!!!!

Kuhancurkan kepalaku tempat kau bersembunyi jika kau tak mau pergi....



Pusing aku dengan ulahmu...

gara-gara dirimu, dua hari ini aku habiskan waktu hanya dengan diam!!!!!

Kluntang Kluntung...

Plonga plongo....

Oh.....Buntu.....

Akhirnya kau pergi juga.......

Dengan ini kunamakan tulisan ini dengan namamu....

BUNTU!!!!!!

Terima kasih buntu.....

LANGIT - LANGIT CINTA


“Maaf…Aku tak bisa”..!!! Kata itu meluncur dengan nada keras, menghentak wanita yang memaksaku untuk berhenti dari membaca dan menulis. “ Jika kamu memaksaku, lebih baik usai saja hubungan kita. Aku tak ingin dibelenggu oleh keinginanmu yang naïf itu. Buku bagiku adalah pacar abadi. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikannya. Saat aku dalam kesusahan, ia selalu setia menemaniku. Saat bahagiapun, ia turut merasakan kebahagianku”.

Sejenak kupandangi dua mata sayu itu melelehkan air mata. Kubelai rambutnya, kuangkat dagunya. “ Maaf sayang, untuk hal yang satu itu, aku tak bisa menuruti keinginanmu. Bukan aku tak sayang, bukan aku tak cinta. Bagiku, kau juga sebuah maha karya sastra dari Sang Maha Cinta. Namun bukan berarti dirimu bisa menghentikan aku tuk berhubungan mesra dengan buku. Sebab darinyalah aku bisa memahami dirimu”.

”Ok. Aku sadar, terkadang atau bahkan sering aku melupakanmu gara-gara buku. Namun bukan berarti aku harus engkau larang untuk bermesraan dengannya. Dulu, saat pertama kali kita berikrar untuk saling memotivasi, kamu khan pernah bilang, ”aku ingin jadi orang yang selalu berada dibelakangmu mas, apapun dan bagaimanapun dirimu. Iya khan?. Lalu kenapa kau lupakan itu?”

Diam. Menangis. Ah mahluk Tuhan satu ini memang sulit di mengerti. Harus bagaimana lagi aku berbicara padanya. Tak ada kata, tak ada suara. Yang ada hanyalah desiran angin malam di penghujung April 2011.

Malam itu adalah malam terakhir kupeluk wanita yang kusayangi. Ia keukeuh dengan pendiriannya. ”Aku atau Buku. Itu pilihanmu mas..”!! Segera ia membelakangiku dan berlari di antara hamparan bunga-bunga beraroma duka. Lamat-lamat, bayangannya hilang di telan malam. Kupandangi bulan yang menjadi saksi akhir dari sejarah cintaku. Duka. Kelam.

Wanita, Kaum Hawa yang membuat Adam terusir dari Surga. Aku tak ingin mengalami nasib yang sama dengan Adam. Terbuai dengan bujuk rayu Hawa, Adam menjadi pesakitan di dunia fana ini. Andai saja Adam ada dihadapanku, akan kucecar dia dengan beribu pertanyaan. Satu tugasku, menginterogasinya!!!...

Aku tak ingin mahluk yang bernama wanita itu menjadi penghambat bagi cita dan harapanku. Meski harus kuakui, banyak pula wanita yang berada di balik kesuksesan seorang pemimpin. Namun, itu bisa di hitung dengan jari. Kebanyakan sebab wanitalah seorang pejuang bisa takluk diantara himpitan mulusnya betis keturunan Ken Dedes itu.

Kutatap langit-langit malam yang berjelaga dengan mesranya bersama bintang-bintang. Kutarik nafas dalam-dalam mencoba menghempaskan beban yang menghimpit jiwa. Segera kulangkahkan kaki menuju laboratorium intelektualku. Kulihat di sana berdampingan Perpustakaan Ajaib Bibi Bokken-nya Jostein Gaarder dan Melawan Dengan Teksnya Yudhie Haryono. Berderet-deret karya penulis dunia di rak buku seakan-akan memanggilku untuk bersenggama dengannya.

Karen Armstrong, Husayn Fattahi, Orhan Pamuk, Nietzsche, Dostoevsky, Sartre, Robet Haris, Hemingway, GG.Marquez dan masih banyak lagi. Mereka semua kekasih sejatiku dalam bentuk lembaran-lembaran usang penuh debu. Pada merekalah kutemukan jejak tapak kaki Tuhan yang mengejewantah dalam bentuk kata. Dalam bentuk teks.

Tak sengaja kulihat gambar wanita itu masih bertengger di atas meja kerjaku. ” Kasih, tak tahukah kamu, dirimulah sumber inspirasi dan aspirasi diriku dalam menjelajah dunia kata-kata ini?. Andai kau tahu, bahwa di ruang pengap berbau khas kertas ini, aku selalu mengajakmu bertamasya dalam keindahan dan kedalaman ilmu-Nya. Aku mengajakmu berdansa dikedalaman samudra tak bertepi. Menyelam....Tenggelam.....Mabuk dalam cinta pada ilmu-Nya.....Kau dan aku terkapar lemas dalam istana imajiner yang aku bangun di ruang ini. Tapi, kenapa kau hancurkan istana imajiner itu dengan kegoisanmu??

(Bersambung)

SUJUD

Rabu, 29 Juli 2009

Sujud…………………Bagaimana kau hendak bersujud pasrah……..
Sedang wajahmu yang bersih sumringah……Keningmu yang mulia dan indah….
Begitu pongah minta sajadah agar tak menyentuh tanah………
Apakah kau melihatnya seperti iblis saat menolak menyembah bapamu dengan congkak…….
Tanah hanya patut di injak……tempat kencing dan berak…….membuang ludah dan dahak……atau paling jauh hanya lahan pemanjaan nafsu serakah dan tamak…
Apakah kau lupa bahwa tanah adalah bapa dari mana ibumu dilahirkan……
Tanah adalah ibu yang menyusuimu dan memberi makan………………….
Tanah adalah kawan yang memelukmu dalam kesendirian dalam perjalanan panjang menuju keabadian……..
Singkirkan saja sajadah mahalmu…ratakan keningmu….latakan heningmu…tanahkan wajahmu……pasrahkan jiwamu……Biarlah rahmat agung Allah membelaimu dan terbanglah…………Kekasih.
Bagimu………………….
Bagimu kutancapkan kening kebanggaanku pada rendah tanah…..
Telah kuamankan sedapat mungkin imanku…..
Kuselamat-selamatkan Islamku….
Kini dengan segala milik-Mu ini kuserahkan kepada-Mu, Allah terimalah….Kepala bergengsi yang terhormat ini dengan kedua mata yang mampu menangkap gerak-gerik dunia……Kedua telinga yang dapat menyadap keresik-keresik berita….Hidung yang bisa mencium wangi parfum hingga borok manusia……Mulut yang sanggup menyulap kebohongan jadi kebenaran….Seperti yang lain hanyalah sepersekian percik tetes anugrah-Mu……
Alangkah amat mudahnya Engkau melumatnya Allah……
Sekali Engkau lumat,……
Terbanglah cerdikku……
Terbanglah gengsiku……
Terbanglah kehormatanku….
Terbanglah kegagahanku……
Terbanglah Kebanggaanku……
Terbanglah Mimpiku………..
Terbanglah hidupku………….
Allah……………………………..
Jika terbang terbanglah………..
Sekarangpun aku pasrah asal menuju haribaan rahmat-Mu……..
 
Support : Mas Template
Copyright © 2011. SHOFA AS-SYADZILI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website | Edited by Arick Evano
Proudly powered by Blogger